Selasa, 11 Juni 2013

Ketika Nafsu Birahi Meminta untuk Dilampiaskan, Kepada Siapa Harus Disalurkan?



Saat aku kelas 6sd yang artinya itu adalah Juni 1997 sampai Juni 1998. Itu adalah masa dimana aku masih lucu, hehehe, masa menstruasi pertamaku, masa dimana payudaraku mulai tumbuh dan perlu ditopang dengan miniset, juga masa dimana aku mulai berpikir untuk menjadi pacarnya Happy lengkapnya Happy Jimi Alkausaeri (gila masih aja gw inget namanya si anak laki-laki paling ganteng dikelasku dulu! Hehe) atau jadi pacarnya Riki yang biasa dipanggil Cecep anak kelas 6 sd lainnya yang satu gedung sekolah denganku karena disekolahku ada beberapa SD bebeda dalam satu gedung. Aku SDN Margahayu XI sedangkan Cecep SDN Margahayu III jika tidak salah.

Sejak SD aku memang sudah akrab dan lebih sering bermain dengan anak laki-laki dibanding dengan anak perempuan. Diantara mereka yang aku ingat ada Aji, Arief, Ridwan, Usep, Eman dan siapa lagi aku juga lupa dan aku juga sudah tidak tahu lagi dimana rimbanya mereka. Temanku para anak laki-laki pada masa itu juga sudah mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis dan dengan malu-malu mulai mendekati teman-temanku yang perempuan. Itupun selalu diikuti dengan ledekan sorak sorai teman yang lain kalau sampai ketahuan sedang berduaan atau ketahuan saat mereka pulang sekolah bersama.

Saat itu, kami semua baik anak laki-laki maupun anak perempuan sangat hobi main kucing-kucingan atau Uucingan dalam bahasa Sunda, bermain boneka kertas atau Sorodot gaplok khas anak Jawa Barat. Sebagian anak laki-laki suka sekali bermain kelereng, tapi diantara mereka rasanya tidak ada yang hobi menonton film bokep atau porno. Mungkin karena dulu aksesnya juga tidak semudah sekarang kali.

Beberapa anak-anak disekitar rumahku, saat ini ada banyak yang sedang berada di jenjang sekolah dasar dan ada beberapa juga diantaranya yang sudah kelas enam SD. Tingkah lakunya ya tidak jauh beda kok dengan anak-anak seangkatanku dulu. Mereka terlihat normal dan natural terkecuali satu kebiasaan beberapa anak laki-laki yang sering berkata kasar tapi selebihnya normal kok. Dimana yang cewe mulai agak senang berdandan cantik untuk menarik minat cowo-cowo dan yang cowo-cowo mulai berusaha tampil keren dan gagah.

Dua diantara anak laki-laki bernama Acong dan Gin-gin beberapa bulan lalu sempat membuat heboh karena berkelahi memperebutkan cinta Yolan hingga membuat kaget orang-orang dewasa saat melihat dua bocah ingusan beradu jotos demi cinta. Parahnya Yolan tidak memilih salah satu dari mereka berdua sehingga Acong dan Gin-gin menjadi bahan tertawaan karena memperebutkan pepesan kosong dan mereka mendapat wejangan tidak hanya dari orangtuanya tapi juga dari para orang tua lainnya disana-sini yang berpesan agar mereka fokus pada sekolah saja, jangan dulu memikirkan cinta, begitu pesan para orang tua.
Tingkah Acong dan Gin-gin saja rasanya sudah cukup membuat kami geleng-geleng kepala dan heran. Lalu haloooooo, ketika tadi pagi  aku menonton berita di televisi ada satu berita yang membuat mataku melotot, mulut mangap, tubuh kaku dan otakku memerlukan waktu yang agak cukup lumayan lama untuk mencerna beritanya “5 bocah SD mencabuli temannya di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.” Tadipun diberita siang masih sering ditayangkan tuh, nanti di berita sore juga pasti ada lagi. Beritanya heboh seheboh berita bocah disemen dan berita ini menambah urutan berita yang membuatku heran dan menimbulkan pertanyaan dibenakku “Ada apa ini? Dimana letak hati dan otak saat ini?”

Sekarang Polisi sedang memeriksa kelima pelaku dan korban dengan didampingi orangtuanya karena para pelaku dan korban termasuk anak di bawah umur. Mereka berusia 11 tahun dan masing-masing duduk di kelas 4 dan 5 SD "Heiiiiiiiiiii itu bahkan masih lebih muda dari anak kelas 6, OMG!". Informasi tayangan berita di televisi mengatakan bahwa sebelum mencabuli temannya sendiri secara bergiliran, para pelaku bermain bersama terlebih dahulu disekitar sekolahnya dan kelima bocah ini mengaku jadi tidak mampu mengendalikan nafsunya akibat keseringan menonton rekaman video mesum di ponselnya. Dan tadi diberita juga kulihat sudah mulai dilakukan razia ponsel anak sekolah untuk memberantas video mesum yang sudah pasti bukan tontonan anak SD (jika tanpa bimbingan orangtua menurutku).

Beberapa orang merasa bahwa berita ini sudah mencoreng dunia pendidikan dan dunia anak lalu mulai menyalahkan para orang tua, peran agama, teknologi, guru dll. "Trus aku mau nyalahin siapa dong?" Bingung. Hemm bagaimana jikalau aku tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena bagiku berita ini sudah mencoreng semua orang dan aku menganggap bahwa ini adalah satu pelajaran berharga dari 5 bocah di Gowa. Tidak mungkin menyalahkan lima anak itu karena mereka toh memang tidak paham jika berhubungan intim berramai-ramai bisa menimbulkan bahaya penyakit kelamin dan mereka tidak diberitahu bahwa menonton film porno bisa meningkatkan libido mereka yang berada dalam masa pertumbuhan dan menurutku, sebenarnya kelima anak ini sudah lebih dulu dicabuli oleh nafsu birahi jadi jangan disalahkan tapi harus dirangkul.

Pihak berwenang perlu mengetahui jelasnya dari mana video porno itu mereka dapatkan, itu sudah pasti. Sedangkan aku juga ingin tahu tindakan cabul macam apakah yang kelima bocah itu lakukan pada anak gadis malang itu. Apakah ada penetrasi hingga ejakulasi, sekedar oral seks atau bagaimana. Ini perlu untuk pemeriksaan, khawatir ada penyakit kelamin yang ditimbulkan baik pada pelaku ataupun korban tapi pasti pihak berwenang sudah akan melakukan pemeriksaan kesehatan mereka, aamiin.
Bagiku jika anak laki-laki yang sudah akil baligh dan dewasa sudah jelas ciri-cirinya, yaitu mereka akan ereksi saat dorongan syahwat meningkat tapi anak umur 11 tahun bagaimana? Apakah sama? Apakah anak laki-laki umur 11 tahun sudah memiliki dorongan seksual seperti orang dewasa? Entahlah, sayangnya aku bukan anak laki-laki. Mungkinkah menonton video porno bisa mempercepat akil baligh anak laki-laki?

Rasanya ini menjadi pelajaran mahal dan menjadi tamparan sekaligus menjadi peluang untuk setiap orang. Kenapa tamparan, karena menyadarkan kita untuk semakin perduli kepada anak-anak dan menjadi peluang karena dengan adanya kejadian ini, kita bisa menyelamatkan anak-anak lainnya di negeri ini dari bahaya film porno. Saat ini sangat mudah sekali untuk mengaksesnya tanpa perlu membeli kepingan cd film porno secara sembunyi-sembunyi seperti zaman dahulu. Bahkan menurut beberapa orang, film porno juga bisa diakses melalui beberapa situs di internet (setahuku sih sudah di blokir ya, tapi nggak tahu juga karena nggak pernah juga menjelajah situs-situs begituan).
Media untuk mengakses yang aku tahu dan simple adalah melalui handphone (sila di cek barangkali ada di memory hp anda atau pacar anda, suami, teman, kakak, adik atau jangan-jangan pada koleksi anda ya? Hehehe) Film porno yang ada di satu ponsel bisa berpindah dengan mudah ke ponsel lain melalui bluetooth, Bbm atau cara-cara lainnya. Kemudahan ini membuat film itu bisa dengan mudah untuk sampai ditangan anak-anak dan akhirnya mereka melihat adegan laki-laki dan perempuan tanpa busana saling jilat, saling raba, saling tonjok, hajar, siksa, banting (lho iki film porno opo smackdown ya?) Yah pokoknya begitulah, adegan yang tentunya anak-anak tidak tahu apa maksud dan tujuan serta akibat yang akan ditimbulkan.

Mungkin pendidikan seks usia dini harus kembali digalakkan sejak masih duduk disekolah dasar mulai kelas empat SD jika perlu karena aku sendiri baru mendapatkannya saat SMP diluar jam pelajaran setiap hari Jumat yang disebut kelas “Keputrian”. Seperti namanya kelas ini khusus remaja putri dengan topik-topik menggelikan pada saat itu sehingga selalu menimbulkan ‘paduan suara’ yang kompak berbunyi “Huuuuuu” dari anak-anak perempuan yang merasa geli.

Rasanya juga memang jadi perlu digalakkan bimbingan para orang tua tentang edukasi seks untuk anak. Jika ingin cara yang extreme bisa dengan mengajak putra putrinya menonton film porno bersama atau memberikan bimbingan lain tentang seks sebatas yang perlu anak-anak ketahui dan barangkali sudah tidak musim juga untuk tabu dalam membicarakannya dengan anak. Perlu bimbingan kakak pada adiknya, perlu bimbingan dari pihak sekolah, perlu bimbingan dari rumah-rumah ibadah sehingga anak-anak akan mendapat pengetahuan seks dari berbagi sudut pandang. Semua perlu membimbing, semua perlu perduli dan semua perlu untuk ikut andil.

Aku mengajak agar kita mulai melihat sekitar kita agar orang yang ada disekitar kita tidak menjadi pelaku atau korban nafsu birahi. Ah aku juga si Stroke Survivor ini mau ikut ambil bagian ah. Barusan aku cek hp adik laki-lakiku dan Alhamdulillah hasilnya nihil lalu aku bertanya pada beberapa anak disekitar rumah siapa saja yang memiliki handphone. Dari 10 anak hanya 2 anak yang memiliki handphone dan ada 1 anak yang hanphonenya bisa menyimpan video dan Alhamdulillah hasilnya juga nihil. Barusan juga kami sedikit berbincang, entah darimana anak-anak ini tahu berita 5 bocah dari Gowa karena kurasa mereka juga tidak suka menonton berita. Mungkin mereka mendengarnya dari orang dewasa disekitarnya yang sedang berbincang atau mungkin sudah dinasehati gurunya.

Anak-anak itu bertanya apa itu mencabuli, dan aku jawab itu adalah perbuatan jahat yang menyakiti orang lain sama halnya seperti mencuri. Sebagian dari mereka juga bertanya apa itu film porno dan sebagian lainnya mengaku sudah tahu bahkan sudah pernah menontonnya (hadehhh). Kujelaskan pada mereka bahwa film porno adalah filmnya orang-orang gede dan anak-anak itu sebaiknya menonton film kartun tapi bukan kartun (anonoh) atau film anak-anak saja. Kuberitahu bahwa menonton film porno saat masih anak-anak adalah kejahatan atau perbuatan yang tidak baik.

Setelah berbincang, anak-anak itu kembali bermain, mereka berteriak, berlarian kesana kemari, menangis minta jajan, tidak merasa ada rintangan apapun karena hidupnya memang tidak ada beban, itulah dunia anak-anak sejati. Begitupun dengan lima anak pelaku tindakan cabul, mereka tidak boleh dibebankan apapun. Orang dewasa disekitarnyalah yang harus menanggung beban ini karena nafsu sudah lebih dulu mencabuli 5 bocah dari Gowa sebelum mereka berlima secara bergiliran mencabuli gadis malang itu.

Bayangkan jika ini terjadi pada anak lainnya dan tidak menutup kemungkinan anak anda atau orang terdekat anda. Ketika nafsu birahi yang ada meminta untuk dilampiaskan lalu kepada siapa harus disalurkannya? Jadi ayo selamatkan anak-anak disekitar kita.

6 komentar:

  1. Balasan