Selasa, 18 Juni 2013

Aajari aku untuk membuang jauh kebencian

para guru cilik

Saat aku menoleh kebelakang, rasanya baru saja terjadi kemarin aku menendang perut dan kemaluan anak laki-laki berandal di sekolahku yang bernama Belu yang sebenarnya juga adalah tetanggaku. Aku menendang perut dan kemaluannya dengan kekuatan penuh bukan tanpa alasan. Aku menendangnya karena dia selalu saja menggangguku.
Tindakan Belu bisa jadi memang hanyalah sebuah tindakan iseng yang biasa anak-anak lakukan. Namun tindakannya tidak lagi menjadi biasa ketika suatu hari aku melintas di ujung gang rumahku. Dari kejauhan aku sudah melihat Belu sehingga aku pun bersiap-siap untuk menghadapi serangan jahilnya. Aku berusaha tenang saat melewatinya, kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga. Sambil berlari dia dengan sengaja meremas payudaraku yang baru saja tumbuh.
“ANJING!” ucapku saat itu, aku bingung harus berbuat apa. Aku bahkan seperti tak bertenaga untuk menendangnya, aku hanya mengumpat dan meneteskan air mata yang buru-buru kuusap karena tak mau di lihat lemah. Sejak itu, aku harus terus memutar otak untuk menemukan cara bertahan setiap kali bertemu dengannya. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya lagi, aku berjanji pada diriku sendiri.
Usai Belu melakukan tindakan isengnya yang tak lucu, aku kembali mengalami hal yang sama oleh orang yang berbeda. Hari itu, seperti biasa aku berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumah karena jaraknya memang tidaklah terlalu jauh. Dari jalan raya, aku menyusuri gang menuju rumahku. Dulu aku sangat suka berjalan dari satu gang ke gang lain apa lagi jika menemukan gang sebagai jalan baru untuk menembus satu tempat. Hari itu pun aku menyusuri gang seperti biasanya. Tiba di gang berikutnya, yang jaraknya kira-kira 100 meter di belakang rumahku, aku melewati masjid yang biasa kulalui.
Di samping masjid ada sumur juga kamar mandi yang biasa digunakan bersama oleh orang-orang yang tinggal di dekat masjid itu sekaligus berfungsi sebagai tempat wudhu bagi yang ingin shalat. Aku sudah biasa melewati sumur itu karena memang letaknya adalah di jalan yang biasa di lalui oleh pejalan kaki termasuk aku. Biasanya ada orang yang sedang mencuci atau memandikan anaknya di sumur itu saat aku melintas, maka seperti yang di ajarkan oleh Ibu guru dan Mamah tentang sopan santun, aku akan sedikit menundukan kepala sambil tersenyum mengucap “Punteun!” setiap kali melewati orang yang sedang beraktivitas di sumur itu apa lagi jika orang itu adalah orang yang lebih tua dariku.
Hari itu, dari kejauhan aku melihat ada Mang Agus yang tengah mencuci di sumur itu maka aku pun mengucap “Punteun!”. Mang Agus membalas dengan mengucap “Mangga!” tapi tiba-tiba dia mendekatiku lalu meremas payudarku, “ANJING!” ucapku saat itu dengan refleks, aku menangis lalu berlari sekencang-kencangnya menuju rumah.
Di rumah aku sudah menghapus bersih air mataku dan tidak mau ada orang rumah yang tahu. Entah kenapa dulu aku begitu bodoh karena tidak menceritakannya pada ayah ibuku untuk meminta perlindungan. Aku diam selama ini, mulutku tidak pernah menceritakannya namun sejak itu, aku selalu melihat bengis setiap kali melihat Belu atau Mang Agus. Aku benci mereka berdua! Aku ingin mencabik-cabik wajah mereka atau melempari mereka dengan batu setiap kali melihat mereka karena aku selalu saja melihat mereka, mereka tetanggaku.
Bagiku hidup jadi penuh ancaman kala itu, aku tidak pernah ber ramah-ramah pada mereka berdua. Jika aku sedang di tugasi menjaga warung, lalu salah satu dari mereka berbelanja, maka aku akan meladeni mereka dengan ketus sambil berharap di dalam hati agar mereka segera lenyap dari muka bumi atau di timpa kesialan bertubi-tubi seumur hidupnya. Aku membenci mereka!
Hidup terus berlangsung, masalah hidup tidak hanya mereka berdua, yang menggangguku juga tidak hanya mereka berdua. Aku dibully sejak dulu, tidak mudah untuk hidup dilingkungan yang penuh anak-anak rasis. Mereka meledekku berramai-ramai dengan mengatai aku BATAK atau KRISTEN, mereka tidak percaya bahwa aku muslim walaupun aku ikut belajar mengaji bersama mereka. Kupikir, memangnya kenapa kalau aku batak? Terus kenapa kalau aku Kristen? Memangnya kenapa? Saudaraku juga banyak yang Kristen, Bapa Tuaku seorang pendeta, ibuku juga dulu Kristen, abang sepupuku seorang penginjil, lalu memangnya kenapa sih? Bagiku hal itu biasa saja tapi mereka malah membullyku, mereka adalah anak-anak kurang ajar yang menyebalkan dan juga bodoh, aku benci mereka!
Kebencianku tumbuh subur, mengakar tidak pernah hilang. Aku menyadari perihal kebencian ini sejak 6 bulan yang lalu yaitu bulan Desember 2012. Ketika aku akan berangkat terapi bersama Mamah dengan menggunakan becak langganan Mamah. Hari itu berbeda dari biasanya karena becak yang datang dikemudikan oleh laki-laki yang lebih muda, berbeda dari bapak tua yang biasanya mengantar kami. Sepertinya aku mengenal laki-laki muda itu, dia bilang bahwa ayahnya sedang ada tamu sehingga dia akan menggantikan tugas ayahnya untuk mengantar kami.
Jarak tempuh dari rumah menuju tempat terapi pijatku adalah sekitar 5km, sepanjang jalan aku terus menoleh ke belakang memperhatikan pemuda yang sedang menarik becak itu, pemuda yang tengah mengayuh becaknya dengan sigap padahal matahari sedang terik-teriknya kala itu. Aku tahu dia siapa, aku yakin!
Tiba di rumah usai terapi, aku bertanya pada Mamah untuk meyakinkan tentang siapa pemuda itu. Mamah bilang benar bahwa pemuda itu adalah Belu. Aku mengumpat sambil menangis. Sosok yang menyakiti dan kubenci sejak dulu, hari itu justru jadi seperti seorang malaikat penolong. Aku menceritakan pada Mamah kejadian masa lalu yang juga di dengarkan Teh Yayah tetanggaku yang sedang ada di rumah.
Mamah geleng-geleng kepala mendengar ceritaku karena dimatanya, Belu adalah anak yang baik. Dari Mamah aku tahu bahwa sekarang Belu adalah seorang tukang becak sama seperti ayah nya dan menjadi becak langganan Mamah tapi aku meminta tolong pada Mamah agar tidak lagi menggunakan becaknya jika yang mengemudikannya adalah Belu, untunglah setelah itu aku bisa di bonceng dengan motor jadi tidak perlu lagi naik beca.
Disaat bercerita tentang Belu, aku juga menceritakan tentang kisah Mang Agus, karena itu adalah sepaket kisah kenangan buruk yang sama oleh dua orang yag berbeda. Ada kebencian pada sorot mata Mamah ketika medengar cerita Mang Agus, dia marah kenapa dulu aku tidak bercerita. Teh Yayah tidak meragukan ceritaku, karena beberapa waktu yang lalu Mang Agus pernah melakukan tindakan yang hampir sama yaitu meremas pantat perempuan yang sedang berjalan, yang juga merupakan tetangga kami yang kini sudah pindah. Aku bilang pada Mamah dan Teh Yayah bahwa sejak dulu, haram bagiku jika aku harus tersenyum atau berbaik-baik pada Mang Agus dan Belu, aku benci mereka!
Waktu cepat berlalu, ternyata kejadian buruk itu berlangsung sudah hampir 17 tahun yang lalu. Selama hampir 17 tahun ini aku memelihara kebencian pada mereka berdua juga pada beberapa anak yang membullyku. Lalu aku berpikir, kenapa dulu mereka melakukan itu padaku? Sexy kah aku? Sebegitu menggodanyakah aku menurut mereka?
Heiiiiii, saat itu aku hanya seorang anak perempuan berseragam merah putih kedodoran. Rokku juga selalu di bawah lutut bahkan menurutku terlalu panjang. Payudaraku juga kecil karena baru saja mulai tumbuh, sama sekali tidak sebagus seperti gadis dalam gambar iklan bra, payudaraku saat itu bahkan belum kutopang dengan mini set. Kenapa mereka melakukan itu? Kenapa aku mendapat pelecehan seksual?
Selama ini aku tidak menyangka bahwa perbuatan Belu dan Mang Agus membuat kebencian mekar di hatiku yang membuatku jadi tidak begitu suka untuk bergaul akrab di lingkungan rumahku. Sejak SMP hingga sebelum aku sakit, aku lebih senang bergaul di lingkungan luar  rumah. Rumah hanya jadi tempat untuk tidur, hidup hanya aku dan orang rumah, aku tak mau tahu tentang tetanggaku. Jika sedang libur dan diam dirumah tidak kemana-mana, maka komunikasi dengan tetangga yang kulakukan hanya dengan tetangga di depan, disamping kiri dan kanan rumahku. Selebihnya, maaf, aku tidak terlalu suka dan itulah alasan aku tidak begitu akrab dengan mereka.
Setelah sakit, aku terkurung di rumah. Terkurung oleh keadaan juga terkurung oleh rasa ketidak sukaan pada beberapa orang di sekitar rumahku. Mamah terus berusaha meyakinkanku untuk tidak terus mengurung diri di dalam rumah. Mamah terus mengajak berdiam di luar untuk melihat luasnya keindahan di cakrawala yang bisa kunikmati, mengajakku menikmati indahhnya suasana pagi, melihat sibuknya lingkungan di siang hari, bersantai bersama tetangga di sore hari dan sedikit bercengkrama ketika hari hampir malam karena para tetangga memang terbiasa berkumpul juga melakukan beberapa aktivitas di depan rumahku.
Awalnya enggan sekali mengikuti ajakan Mamah lagi pula aku tidak terlalu mengenal mereka tapi akhirnya aku ikuti juga karena berdasarkan saran dari dr.Bily melalui Rina adikku, maka setiap pagi, aku akan berjemur menikmati matahari pagi setelah selesai mandi dengan duduk di kursi roda di halaman rumah tetangga yang ada di depan rumahku. Dr.Bily bilang, ini harus dilakukan agar punggungku tidak lecet akibat terlalu lama berbaring.
Setiap kali berjemur, beberapa orang yang melewatiku saat berjalan, melihatku dengan tatapan heran, beberapa lainnya menyapaku juga menyemangati. Mereka adalah para tetanggaku. Kegiatan ini membuatku mau tak mau jadi berinteraksi dengan lingkungan sekitarku.
Setelah bisa berjalan, aku keluar dari rumah untuk sekedar berjemur di pagi hari, latihan berjalan dan senam tangan atau sekedar duduk diam di depan warung tanpa harus di paksa oleh Mamah karena aku melakukannya atas inisiatifku sendiri. Aku mulai suka melihat aktivitas para tetangga di pagi hari, ada Mang Ence yang sibuk menyiapkan roda buburnya, Mak Elah yang sibuk membuat gorengan, Mak Itoh yang sibuk menyiapkan roda Kupat tahunya, beberapa orang yang datang dari berbagai arah untuk membeli Nasi Kuning pada Bu Nining di depan rumahku, Tukang tahu yang terus berteriak memanggil Mak Anjung konsumen setianya “tiada hari tanpa tahu” begitu aku sering berkata pada Mak Anjung, ada para pengayuh becak yang bersiap untuk mencari rezeky dan banyak kegiatan lainnya. Mereka hidup, mereka giat, mereka berjuang, melihat mereka jadi menimbulkan perasaan senang dan memberi semangat padaku.
Aku mulai akrab kembali dengan para ibu yang ku kenal juga mengenal orang-orang baru kemudian kami membicarakan tentang stroke, beberapa kali aku mengobrol singkat dengan Pak RT atau bercanda dengan para pemuda tanggung. Mereka semua adalah orang terdekat dari rumahku yang akan membantu proses penguburanku kelak karena tidak mungkin aku akan berjalan sendiri ke pemakaman, inilah proses belajar bertetangga yang telat kulakukan.
Aku juga mulai bermain bersama anak-anak dan aku lebih memilih untuk sering bermain bersama anak-anak. Mereka anak-anak yang lucu, tidak rasis seperti anak-anak seangkatanku, jikapun ada paling hanya satu dua. Dari anak-anak itu aku belajar banyak hal dan aku mulai membangun hubungan dengan mereka. Pada anak-anak itu aku juga membagikan mainan milikku, walau usiaku sudah 28 tahun, aku sangat suka mengoleksi mainan anak-anak jadi tidak sulit untuk membagi mainan pada mereka. Mereka senang dan berkata “Nuhun Teh Sutri!”
Aku ikut bermain saat mereka bermain lompat karet/sampintrong walau hanya sekedar jadi penjaga yang memegang karet karena belum mungkin jika aku ikut melompat. Aku senang meladeni pertanyaan anak-anak cerewet yang serba mau tahu/kepo termasuk meladeni pertanyaan Neng Miot yang cantik berusia 4 tahun, anak cantik itu adalah anak ke-3 dari Mang Agus. Aku suka saat aku memarahi anak nakal yang sedang mengganggu anak lainnya karena aku merasa jadi pahlawan untuk anak yang diganggu. Aku senang mendengarkan curhat Eva (4tahun) dan Arin (6 tahun) yang memiliki masalah hidup yang rumit juga tentang tidak enaknya jadi anak yang lahir dari keluarga miskin. Yang paling menyenangkan adalah bermain bersama Dikdik, anak cerdas berusia dua tahun yang belajar nama binatang dalam bahasa Iggris denganku, sekarang tingkah lakunya semakin lucu saja setiap hari.
Aku bermain dan belajar bersama mereka. Aku belajar menghilangkan kebencian saat melihat anak-anak itu bertengkar hebat dengan temannya lalu dengan mudah saling memaafkan kemudian bermain bersama kembali. Aku belajar kejujuran dari mereka ketika mereka mengakui kesalahan tanpa banyak berkata sebagai pembelaan diri. Aku belajar dari mereka bagaimana cara memandang permasalahan sebagai sesuatu yang memang menyebalkan tapi tidak untuk terus di pikirkan karena ada banyak cara untuk menyenangkan hati. Aku belajar dari mereka tentang bagaimana menghadapi kemiskinan. Aku belajar menghargai apa yang kita miliki saat melihat mereka benar-benar bangga dengan mainan mereka yang tak sebagus mainan anak orang kaya bahkan seringnya mainan mereka itu adalah mainan bekas. Aku belajar tentang mudahnya bergembira ketika melihat mereka senang saat kuberi mainan yang sebenarnya biasa saja. Aku belajar bagaimana mengubah perilaku ketika mengajari Piyan yang berperilaku kasar agar menjadi sedikit lebih santun. Aku belajar berbagi tanpa menuntut ketika melihat mereka saling memberi dan menerima. Aku belajar tentang sifat buruk yang bisa muncul sejak kanak-kanak karena didikan orang tua ketika melihat 2 orang anak ‘orang kaya’ di antara anak-anak itu yang berperilaku sombong mirip orang tuanya. Aku belajar untuk kembali menyusuri gang saat melihat mereka berlarian ke satu gang dan muncul dari arah gang lain yang berbeda, aku tidak harus membenci gang hanya karena ulah 2 orang jika aku juga sebenarnya suka menyusurinya.
Hampir 17 tahun ini aku menyimpan rasa benci yang sekarang sedang ku kikis pelan-pelan walau belum bisa memberi senyum pada Mang Agus dan Belu, mungkin nanti itu akan terjadi suatu saat nanti. Hidup itu simple walaupun tidak mudah. Hidup itu belajar dan bermain cukup dengan tenang, rileks dan fokus saat hadapi apapun. Memafkan bukan berarti melupakan dan itu memang belum mudah bagiku tapi setidaknya aku terus mencobanya.
Setiap orang punya kenangan buruk tapi tugas hidup selanjutnya adalah menciptakan kenangan manis untuk masa yang akan datang. Terima kasih Putri, Putri, Nuri, Rafa, Neng Miot, Zila, Piyan, Yola, Ihsan, Fahri, Eva, Arin, Fais, Fadli, Neng Su, Wulan si kembar Zahwa, seorang anak unik juga anak-anak lain yang namanya belum aku hapal dan tentunya untuk Dikdik. Terima kasih untuk pertemanan yang indah dan teruslah ajari aku untuk membuang jauh kebencian dari diriku wahai guru-guru cilik. I love you all! *Kiss&Hug*




punteun = permisi
mangga = silahkan
nuhun = terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar