Kamis, 24 April 2014

#Q



Yang Muslim pasti Islam
Yang Islam belum tentu Muslim.



Belajar berserah diri.

Sabtu, 28 Desember 2013

BERCERMIN




monicaaldebaran.blogspot.com



Terima kasih sudah mengingatkan bahwa aku salah, aku NAKAL dan aku tidak dewasa. Menjadi orang yang MENYEBALKAN itu tak enak.

LELAH terlihat jelas, peluh ini pertanda letih namun lidah masih enggan mengucap keluh karena Allah yang maha baik masih menguatkanku disetiap ujian.

Jiwa pengecutku sebenarnya mengajakku untuk pergi LARI dari masalah, untunglah hati dan kakiku bersikeras untuk bertahan.

MARAH itu enak banget ya, rasanya puas sekali. Tapi mulut jadi serupa dubur, yang keluar hanya gas bau dan kotoran!

Tak mudah ternyata ketika harus diam saat EMOSI. Tapi tak juga sulit, hanya harus tahan diri saja, karena itu lebih bermanfaat dibanding mengatakan kata-kata tanpa guna yang justru menyakitkan dan merugikan diri sendiri.

Ku kira dengan menyimpan BENCI maka dia yang kubenci akan merasa sakit dan tak tenang. Tapi ternyata justru aku sendirilah yang merasakannya.

CINTA KASIH dalam diri ini harus lebih banyak dibagikan karena tiada guna menimbunnya sendiri dan justru akan semakin membahagiakan saat dibagi.

Aku begitu PEMALAS, tak heran jika saat ini aku tertinggal jauh dari mereka yang berprestasi ini itu sementara aku hanya menontoni.

Kubercermin dan aku berteriak saat melihat wajahku yang JUDES menyeramkan akibat lebih banyak murung dan jarang tersenyum, pantas orang tak suka padaku!

Sepertinya aku ini adalah manusia JAHAT, hahahahahaha. Bisa-bisanya aku mengira diri ini malaikat padahal kelakuan setara iblis.

SYUKURlah tuhan itu maafnya seisi bumi, maha pengasih & penyayang, jadi aku tak langsung disepak detik ini juga ke neraka, moga aku dapat maafNya.

Aku harus BERUBAH agar Tuhan juga ikut serta merubah nasibku. Maka setiap hari harus macam di spbu "Dimulai dari 0 ya!"

Aku harus berani MINTA MAAF pada mereka yang telah kusakiti juga memaafkan yang menyakitiku walau dia tak pernah meminta maaf atau mungkin tak merasa bersalah sedikitpun.

Inilah AKU, mahluk bumi berwujud manusia yang mencoba memperbaiki segumpal dagingku agar ikut baik pulalah keseluruhan jasadku.





@sutrimanik

Senin, 23 Desember 2013

CEMEN


httpsalingxsharing.blogspot.com201111otak-lebih-mudah-ingat-yang-telanjang.html

Aku duduk termenung di ruang tv, diluar hujan sangat deras sekali. Dari balik punggungku dia berbisik mesra di "Lihat kakiku tanpa alas" ucapnya sambil mengangkat kaki mulusnya kehadapku.
Aku menoleh ke arahnya dan aku melihat pemandangan yang sangat indah.
Dengan genit dia menggodaku kembali "Lihat,bahkan tak ada sehelai benang pun yang menempel ditubuhku" ucapnya sambil menjelajahi tubuhnya sendiri dengan telunjuk tangan kanannya mulai dari bibir ke dagu lalu ke leher dan semakin bawah secara perlahan.
"Apa? Apa ini?" Tanyaku dalam hati. Aku bahkan tak sempat untuk menarik nafas. Rasanya gerah padahal sedari tadi aku kedinginan karena kehujanan dalam perjalanan kemari. "Apa? Apa yang harus kulakukan?" Tanyaku kembali masih tak percaya dengan apa yang kulihat.
Vinari. Vinari gadis impian setiap lelaki sekarang ada dihadapku dengan tampilan sempurna tanpa cela tapi aku justru tak dapat berbuat apapun.
Kakiku gemetar, mulutku menganga, jantungku berdetak berratus kali lebih cepat dari kondisi normal. Aliran darahku mengalir lebih cepat, mungkin 160km/jam. Aku tak bergeming, mataku tak berkedip. Aku tak mau kehilangan moment ini sedetik pun jadi aku harus tetap sadar, maka gelas yang tadi berisi secangkir teh hangat yang disuguhkan Vinari, kugenggam erat-erat agar aku tetap sadar.
Vinari semakin dekat, diambilnya gelas dalam genggamanku lalu dia menempelakan tubuhnya ketubuhku sambil membuka jemariku yang mengepal dengan penuh kelembutan. Aku semakin kikuk, semakin gemetar dan ingin merangkul Vinari erat-erat tapi sama sekali tak berdaya. "Apa? Apa ini? Kenapa aku tak mampu melakukan apapun?" Tanyaku penuh kebimbangan meragukan kelaki-lakianku sendiri.
"Ampunnnnnnnnnnn" teriakku dalam hati sat Vinari mengelus lembut dadaku dari balik bajuku. "Apa? Apa yang diperbuat wanita ini padaku?"
"Zen" ucap Vinari dengan lembut berulang kali menyebut namaku. Kulihat dia menggenggam gelasku sambil tersenyum manis.
*******
"Sudah bangun Zen?" Tanya Vinari yang ada disampingku.
"Aku dimana?"
"Kamu dirumah aku. Semalam kamu demam trus pingsan."
"Pingsan? Jadi aku tak melakukan apapun dan hanya pingsan?"
"Iya kamu pingsan. Ternyata kamu cemen." ucap Vinari dengan senyum menggoda.
"Iya aku memang cemen. Tapi kalau kamu mengizinkan, bolehkah aku sendiri yang berjelajah disitu?"

Rabu, 28 Agustus 2013

Pesan Semangat Andrea Hirata untukku

Judul: Meniti Langkah Penerbit: Elex Media Komputindo Idr: Rp.37.800,-

Kemarin, seorang sahabat bernama Abee Perdana yang seorang mantan finalis VJ hunt 2008 bertanya banyak hal kepadaku tentang buku ku yang baru saja terbit. Agak kepo sih memang, tapi dia bilang bahwa kepo itu adalah bagian dari jati diri seorang jurnalis, hahahahahaha.
Dari beberapa pertanyaan yang dia ajukan, ada satu pertanyaan yang cukup membekas dan jadi buah pikiranku yaitu ketika dia bertanya “Gimana perasaan loe setelah buku loe lahir?”
Dengan spontan aku menjawab “Seneng dan takut!” entah kenapa aku menjawab seperti itu. Dan dari jawabanku itu maka akhirnya muncul lagi pertanyaan dari Abee yang membuatku malah jadi bingung ketika dia bertanya “Apa yang bikin loe takut?”
Lama sekali aku menjawab pertanyaan itu, karena jujur aku sendiri bingung akan apa yang membuatku takut. Akhirnya saat itu aku mendapat jawaban bahwa aku mungkin merasa takut akan penilaian orang lain terhadapku. Tapi rasanya bukan itu yang sebenarnya aku takutkan karena aku bukan tipe orang yang akan ambil pusing tentang penilaian orang lain terhadapku, “Masa bodo, lha wong hidupku ndak dibiayai mereka tho!” itu yang selalu kukatakan jika ada orang yang berpandangan miring kepadaku, terlebih jika hal itu tidaklah benar.
Sepertinya sahabatku itu menangkap arti ketakutanku lalu dia berkata seperti ini “Dulu gw pernah intervieu Andrea Hirata waktu zaman gw masih siaran di sport and music station. Waktu itu Andrea Hirata belum terkenal, Laskar Pelangi belum booming sama sekali. Off the record gw nanya sama dia, gimana kalau bukunya nggak laku? Trus Andrea Hirata bilang “Nggak apa-apa, saya nggak ambil pusing buku itu laku atau nggak karena menulis adalah passion saya. Jadi saya nikmati saja karena menulis sudah jadi pilihan saya.” Jadi loe juga harus gitu, loe kudu semangat untuk terus nulis kalo menulis adalah passion loe. Loe kudu lakuin dengan passion biar nikmat.” Begitu pesan Abee sebelum pembicaraan kami berakhir.
Setelah itu aku jadi teringat, sewaktu Abee meng intervieu Andrea Hirata yang dia ceritakan, aku juga mendengarkan bahkan sempat ikut kuis nya dan mendapatkan hadiah buku karangan Betty Y. Sundari berjudul Muslimah Goes To CEO.
Kala itu aku masih berminat sekali untuk menjadi seorang penulis dan dengan seksama aku mendengarkan perbincangannya bersama Andrea Hirata. Benar kata Abee, kala itu Andrea Hirata belum terkenal, tapi lihat sekarang, hampir semua orang tahu siapa dia dan dulu dia sama sekali tidak mengharap bahwa dirinya akan terkenal.
Yes, aku tahu apa yang sebenarnya aku takutkan. Aku terlalu takut jika bukuku berakhir di stand buku diskonan hanya agar penerbit balik modal. Aku bahkan takut untuk memilih menjadi seorang penulis padahal aku mencintai dunia tulis menulis.
Aneh, cinta tapi takut! Tapi memang itulah yang sebenarnya. Tiba-tiba aku teringat pesan sahabatku Rahma yang selalu menjadi motivatorku saat aku mulai aktif kembali menulis, dia bilang “Jangan bilang TIDAK kalo loe cinta. Jadi kalau loe cinta nulis, ya jangan loe tolak rasa itu dan ikuti rasa cinta itu!”
Dan semalam di twitter Windy Ariestanty @windyariestanty, dia berkicau seperti ini “Berhentilah berkata, ‘aku penulis pemula.’ Tak ada pemakluman karena alasan ini. Pembaca tak peduli itu. Penulis lain juga tidak. Justru karena kau penulis debutan, maka kau harus bersaing dengan penulis veteran. Kau malah harus bekerja dan belajar lebih keras. kau tahu, mereka, para penulis veteran pun, terus belajar. Saban menulis buku/tulisan baru, mereka kembali ke titik nol. Belajar lagi. Tulisan akan bersaing dengan tulisan. Bahkan, tulisanmu hari ini akan bersaing dengan tulisanmu kemarin. Mau kalah dengan dirimu sendiri?”
Tertohok aku membaca pesan itu yang langsung terasa tertuju untukku (tak ada yang kebetulan, semua dirancang cantik oleh-Nya) hehe. Baru saja sahabatku Pepey datang ke rumah dan berkata “Gw udah baca buku loe dan teruslah menulis. Lagi, lagi dan lagi.”
Bersyukur sekali karena akhirnya aku tahu apa yang kutakutkan jadi aku tahu solusi apa yang bisa kuberikan untuk diriku sendiri setelah akhirnya aku melakukan interdialog panjang lebar. Setelah itu aku tahu dimana dan bagaimana harus memungut passionku yang tercecer dan terima kasih untuk pesan semangat Andrea Hirata untukku yang disampaikan lewat Abee dengan rancangan terindah dari Allah SWT, I Love Allah! Terima kasih Mbak Windy, terima kasih sahabat-sahabatku, terima kasih Allah. :)


SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!

Senin, 26 Agustus 2013

Akhirnya Bayi Imortalku Alias Buku Lahir Juga

1377411288119975463
bayi imortal pertamaku

Tarammmmmmmm
Yipiiiiiiiiiiiii, akhirnya bayi imortalku alias buku lahir juga.
Beberapa bulan lalu, aku sempat menulis artikel yg berjudul Nunggu bayi imortalku lahir. Kemarin, tepatnya tgl 22 Agustus 2013 anak itu lahir dengan membanggakan. Dia lahir selamat dan berhasil didistribusikan ke Gramedia, Togamas dan Gunung Agung.
Seperti yang aku ceritakan di artikel sebelumnya, buku ini lahir atas campur tangan Nhae sahabatku. Dia lah yang optimis bahwa naskahku bisa lolos di penerbit major, dan ternyata itu terjadi.
Tadinya naskah itu akan kuberikan pada dokter terapiku, tapi tiba-tiba terpikir untuk menerbitkan ke salah 1 penerbit major lainnya. Namun sayang, saat itu tidak ada uang untuk print out dan kalau mau kirim lewat email, biasanya lebih lama lagi untuk proses seleksi naskahnya.
Sempat terpikir juga sih untuk menerbitkan sendiri saja karena ada banyak jasa self publishing yang menawarkan harga paket penerbitan beserta bantuan untuk promo dari mereka. Tapi jangankan self publishing, lha wong untuk print out saja ndak ada hepeng (kesian bener hahaha).
Ditengah pilihan untuk menerbitkan itulah Nhae datang dengan solusinya. Dia meminta aku mengirim naskahku via email, selanjutnya dia yang akan mengirimkan naskahku ke penerbit yaitu Elex Media Komputindo lalu menyuruhku agar terus berdoa.
Selama naskah diseleksi dan belum ada respon, rasanya hati ini tak tenang. Harap-harap cemas hingga aku terus menerus mengganggu kesibukan Nhae perihal hasil seleksi naskah.
1 Mei 2013, pihak penerbit menghubungiku dan memberi kabar baik bahwa naskahku bisa mereka terbitkan.
Kami mulai melakukan proses editing, ada beberapa bab yang dihilangkan karena dirasa tidak perlu dan tidak mengganggu jalan cerita jika dihilangkan. Setelah itu aku menambahkan 2 tulisan yang pernah kumuat di Kompasiana yaitu tulisan yang berjudul Stroke itu adalah pencuri yang jahat dan sangat terencana dan Bisakah Aku yang Cacat ini Jadi Jagoan
dengan sedikit perubahan dan penyesuaian tentunya. Sedangkan tentang stroke yang ada dinaskahku memang sengaja sudah pernah kubagikan juga di Kompasiana.
Beres editing selama berbulan-bulan, naskah masuk ke tahap proofing juga sempat kebingungan dengan judul karena judul yang kuberikan dirasa tidak menarik sampai akhirnya pada tanggal 10 Juli 2013 ditentukanlah sebuah judul yang kami sepakati bersama yaitu MENITI LANGKAH.
Beberapa hari kemudian desain cover pun datang lalu terbit deh. Kabar terbit ku ketahui pada tanggal 20 Agustus 2013 dari Rahma sahabatku yang tidak sengaja googling dan menemukan informasi bahwa buku ku akan terbit pada tanggal 22 Agustus. Kemudian aku mendapat konfirmasi dari pihak penerbit tentang tanggal terbit sesuai dengan informasi yang Rahma berikan.
Maka aku putuskan untuk melaunchingnya dengan sederhana pada hari itu juga tanggal 20 Agustus 2013. Launching hanya kulakukan dengan meminta doa Mamah kemudian kami berdua berdoa bersama lalu kuberitahu rekan dan kerabat melalui broadcast message di BBm.
Setelah itu, ucapan selamat pun berdatangan, dan Alhamdulillah ML kini sudah hadir hampir di semua Gramedia. Untuk Anda, silahkan kunjungi Gramedia terdekat ya! Atau jika tidak bisa beli online saja, tinggal googling dengan keyword meniti langkah, maka akan muncul toko-toko buku online yang juga menjualnya.
Alhamdulillah, tak henti-hentinya diri ini bersyukur karena buku yang berjudul Meniti Langkah, sebuah catatan seorang penderita stroke muda adalah novel non fiksi yang aku tulis sendiri selama fase pemulihan di bulan Januari sampai Maret.


Aku masih meniti langkah, yang artinya mau tidak mau, aku harus menghadapi semua hal, bukan karena suka atau tidak suka
Aku masih meniti langkah bukan di negeri khayalan, tempat semua hal bisa terjadi sesuai rancangan si pengkhayal tanpa hambatan
Aku masih meniti langkah di bumi, bukan di negeri dongeng yang tiba-tiba akan muncul ibu peri pada saat-saat tersulit. Ini alam nyata, aku harus berjuang jika ingin sesuatu
Aku masih meniti langkah, artinya aku harus siap dengan segala realitas sampai akhirnya aku berada dua setengah meter di bawah tanah
Aku meniti langkah selama masih menginjak tanah. Sejak dulu aku suka melangkah dengan kaki telanjang, dan kini pun aku masih tetap menyukainya walau kaki yang satu masih berjuang untuk berpijak dengan sempurna.



Salam dan SEMANGAT!!!!!!!



1377411541906750572
judul: Meniti Langkah catatan seorang penderita stroke muda penerbit: Elex Media Komputindo Rp.37.800,-