Rabu, 19 Juni 2013

masihkah menulis itu sulit?




Menulis bisa membuat apapun jadi lebih luas dari laut! foto koleksi pribadi laut Pangandaran



Semua orang memiliki makna tersendiri tentang menulis. Penulis-penulis besar pun memiliki maknanya tersendiri tentang menulis. Bagiku pribadi, menulis adalah percintaan antara jiwa, pikiran dan hatiku dengan aksara, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat dengan tulisan. Jadi, sebenarnya, menulis itu memiliki arti yang mudah dan seharusnya tidak membuatmu jadi sulit untuk berekspresi dengan tulisan karena menulis itu mudah dan semua orang adalah penulis.
Aku mulai menulis sejak aku bisa menulis saat mulai mengenal huruf dan angka. Perjalanan menulisku di mulai dengan menuliskan huruf dan angka di atas Mirage yang putih bergaris sesuai instruksi ibu guru yang kutulis dengan tulisan tangan yang tidak bagus lagi kacau tapi lambat laun huruf dan angka terangkai semakin baik dengan tulisan tangan yang agak membaik.
Di tingkatan berikutnya, pola menulisku agak membaik ketika ibu guru yang lain memintaku dan kawan-kawan untuk menulis cerita tentang pengalaman menarik kami selama liburan. Aku menulis apa yang terjadi selama liburan lalu membaca dengan lantang di depan kelas, itu adalah prestasi bagiku.
Berikutnya saat kelas 6, aku menulis di atas kertas cantik bergambar Winie the Pooh. Aku menulis kata-kata karangan tentang hal yang juga ku karang untuk kekasih imajinerku bernama Steven. Setelah menulis surat untuk Steven, aku kembali menulis surat untukku dari Steven sebagai balasan atas surat yang sebenarnya tak pernah ku kirim. Balasan surat dari Steven bahkan kutunjukkan pada Lena, Tutin, Susi dan beberapa teman sekelasku yang lain sambil tersenyum malu sekaligus bangga karena teman-temanku tidak memiliki surat seperti suratku.
Adakah Steven itu tipuan?
Kurasa tidak! Steven itu nyata kok, tapi hanya ada di alam pikiranku! Sayangnya Steven sudah lama pergi karena cemburu saat aku mulai menyukai anak laki-laki di dunia fisikku. Maka setelah Steven meninggalkanku, aku mulai menulis isi hatiku dalam buku harian juga menulis surat yang masih bertumpuk dan tersimpan hingga kini untuk seorang kakak kelas yang kusuka di bangku SMP, surat-surat itu hanya pernah ku umbar pada Rahma sahabatku.

Di buku harian, aku mulai menulis satu kejadian ke kejadian lain plus beberapa testimony dari teman-teman (aneh buku harian kok ya ada tulisan mereka ya wkwkwk). Aku menulis dan terus menulis sebagai ungkapan isi hati. Disamping itu, aku masih menulis di kertas yang mulai berganti dari Mirage ke Sinar dunia yang tetap berwarna putih dan bergaris. Aku juga menulis pada beberapa Kiky milikku yang berwarna-warni dan bergaris, jumlah Kiky tak banyak karena harganya lebih mahal jadi tulisan tangan pun di upayakan agak lebih cantik jika sedang menulis di Kiky.
Aku berkenalan dengan mesin tik tapi menulis tangan rasanya jauh lebih mudah dari pada menggunakan mesin tik. Sejak mengenal komputer dari era DOS hingga kini, maka bagiku menulis tak melulu harus di atas kertas dengan tulisan tanganku yang tak pernah bagus. Aku cukup datang ke rental komputer kemudian duduk manis berlama-lama. Setelah itu tulisan di print dan hasil tulisan yang di cetak tinta ternyata lebih baik dan teratur di banding tulisan tanganku dengan pinsil atau pulpen. Waktu berlalu begitu cepat, dunia menawarkan banyak fasilitas menggoda untuk kucicipi dalam hal menulis semisal sms, social media, blog dll. ‘Aku bermimpi jadi penulis!’
Sejak dulu, banyak tulisan yang kubuat, ada tulisan ilmiah remaja yang ku ikutkan lomba tapi tak pernah lolos jadi pemenang ataupun nominasi. Ada tulisan tentang hal imajiner/fiksi yang ku buat berupa cerpen atau cermin yang kemudian ku kirim ke majalah remaja, koran dll tapi Alhamdulillah tak ada satu pun juga dari tulisanku itu yang di terbitkan juga tak pernah kembali kepadaku (hahaha).
Tulisan milik orang lain kadang muncul dan mirip dengan tulisan yang ku kirim, kupikir karena otak manusia yang satu dengan yang lain bisa memiliki kesamaan pikiran, jadi hal itu wajar menurutku. Kadang apa yang ku tulis pun bisa saja sama dengan tulisan orang lain apa lagi jika aku terlalu banyak membaca karya tulisan dari satu orang penulis, maka gaya tulisan dan bahasaku akan terpengaruh jadi mirip dengan tulisannya.
Terlalu sering di tolak membuatku jadi enggan menulis untuk dikirimkan. Aku hanya menulis untuk script informasi saat aku siaran dan menulis untuk diriku sendiri di buku harian. Itulah perjalanan menulisku. Saat ini aku berupaya terus menulis minimal 1 tulisan dalam satu hari yang ku share di Kompasiana juga di blog milikku atau cukup ku simpan sendiri saja. Aku menulis tentang apa pun, kapan pun dan di mana pun untuk melatih otakku yang sempat terendam 70 cc darah sekaligus melatih agar daya pikirku tidak sengklek, wkwkwk.
Tak harus hebat dalam menulis untuk bisa menjadi seorang penulis. Bahkan saat kau menulis daftar hutang di secarik kertas tersembunyi pun itu tetap saja menulis, hahaha. Menulis itu mudah, semua orang adalah penulis, penulis cerita hidup yang di catat oleh malaikat di kiri kanan. Lalu, masihkah menulis itu sulit?



Hati-hati! Menulis bisa menyebabkan kecanduan!

Making love all the time


posisi yang nyaman (menurutku!)

menulis adalah percintaan jiwa, pikiran dan hati dengan aksara
menulis adalah terapi untuk otakku
menulis adalah relaksasi dari segala penat
menulis adalah teriakan emosi terpendam
menulis adalah pemuas hasrat
menulis adalah cinta
menulis adalah media latihan untuk banyak hal
menulis adalah ekspresi apa yang terpendam dalam benakku
menulis adalah pengingat kala aku lupa
menulis adalah kenikmatan hidup yang harus kusyukuri
menulis adalah goresan apa yang telah lalu untuk jadi kenangan
menulis adalah proses pengenalan diri sendiri
menulis adalah gambaran dirimu!





pertama kali tangan kiriku bergerak (sombong!)



aksara di tuts keyboard yang terus menggoda!


sudut percintaan lain dengan aksara



Aku Rindu Mic, Mixer dan Panggung



siaran di atas Gajah bernama Salamah dalam program bukan siaran biasa



1998, aku pernah sangat ingin menjadi seorang penyanyi, saat itu aku berpikir bahwa hanya menyanyilah yang disebut bakat, yang lain tidak. Pemikiranku yang sempit sekali! Saat itu aku terus membayangkan diriku berada di atas panggung megah sedang memegang mic, aku sedang bernyanyi menggunakan gaun cantik, kemudian menerima riuh tepuk tangan dan bunga cantik ketika aku selesai bernyanyi, dalam bayanganku.
Aku lalu mewujudkan bayanganku, aku di terima dalam kelompok paduan suara sekolah. Tapi bernyanyi berkelompok bukanlah yang ada di bayanganku, jadi aku nekat mewujudkannya dengan bernyanyi solo saat ada gelaran pentas seni sekolah. Aku membawakan lagu berjudul Mother How Are You Today dan Panggung Sandiwara. Hasilnya payah tapi sejak itu aku jadi sadar diri bahwa aku tidak bisa bernyanyi, aku tidak berbakat dan aku tahu suaraku tidak layak untuk bernyanyi. Saat itu, ada seorang kakak kelas, aku lupa siapa namanya tapi aku ingat wajahnya, dia sengaja naik ke atas panggung menyerahkan bunga layu plus daun kering setelah aku bernyanyi. Rasanya malu sekali hingga aku ingin berlari jauh dari panggung ketika para penonton ikut berteriak “huuuuuuu” serempak tanpa di komando. Kini hal itu justru terasa lucu saat mengingatnya kembali walau pun sejak saat itu aku jadi agak takut untuk bernyanyi, takut pada panggung dan aku tidak mau menyentuh mic karena mentalku mental tahu.
Di tahun yang sama, aku menjadi seorang pendengar aktif salah satu radio anak muda kenamaan di kota Bandung akibat pengaruh sahabatku. Setelah itu aku semakin tertarik pada dunia radio dan ketertarikanku membuatku ingin tahu lebih banyak tentang serba serbi dunia radio.
2004, ketertarikanku akhirnya menarikku untuk benar-benar masuk ke dunia radio. Tidak hanya menjadi pendengar tapi aku mau menjadi seorang penyiar. Untuk bisa menjadi penyiar, maka aku mengikuti latihan di sebuah tempat pelatihan siaran kecil di jalan Emong, Karapitan, Bandung. Sayangnya tempat itu kini sudah tidak ada lagi. Di sini, aku bertemu kembali dengan mic namun mic kali ini memiliki konsep yang berbeda dalam pikiranku, kali ini mic kugunakan untuk berbicara bukan untuk bernyanyi. Setelah itu, mic tidak lagi menakutkan tapi justru malah menjadi akrab denganku.
Setelah usai mengikuti pelatihan siaran, aku belum benar-benar menjadi penyiar karena belum ada radio yang menerimaku. Umumnya, penyiar sering kali merangkap menjadi seorang pemandu acara atau biasa disebut MC (master of ceremony). Dan aku sudah lebih dulu menjejakkan kakiku di atas panggung kecil sebagai MC walau saat itu aku belum siaran. Berawal dari Tria, seorang kawan di tempat pelatihan yang menawariku menjadi MC untuk acara gathering karyawan sebuah perusahaan kayu dari Kalimantan yang di adakan di Lembang pada tanggal 15 Januari 2005 dengan bayaran Rp. 50.000,-. Bayaran yang kecil untuk sebuah perusahaan besar di sebuah hotel besar, tapi maklumlah, saat itu aku adalah MC pemula yang di tipu harga oleh panitia! Saat itu aku menjadi MC di atas sebuah panggung kecil, itu menjadi perkenalan pertamaku dengan panggung dalam fungsi sebagai pemandu acara, bukan penyanyi.
Setelah itu, aku mulai mengikuti pelatihan public speaking di jl.Sulanjana, Bandung, sayangnya tempat ini juga sudah tidak ada. Di sini, aku mendapat tawaran dari salah satu pelatih sekaligus pemilik tempat pelatihan untuk memandu acara promosi salah satu produk yang menyediakan bedak untuk anak remaja juga aneka perlengkapan bayi di salah satu mall di kota Bandung. Aku berduet dengan Farah, mahasiswi fakultas ilmu komunikasi dengan bayaran Rp. 250.000/hari.
Aku mendapat tawaran MC untuk yang ke tiga kalinya di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Braga bersama Alny. Kami memandu sebuah acara pagelaran rutin distro-distro Bandung. Kemudian setelah itu, tawaran demi tawaran MC kembali datang. Tawaran yang datang memang tidak banyak seperti para MC laris lain di kota Bandung tapi selalu saja ada walau hanya 1 atau 2 tawaran dalam satu bulan, tentunnya dengan tarif yang ikut meningkat sesuai kesepakatan.
Aku menjadi MC untuk berbagai acara, mulai dari acara ulang tahun, acara hiburan 17 Agustus, pernikahan, pagelaran music, gathering, acara hiburan yang di gelar oleh pihak pemerintah, memandu acara di mall, promosi produk juga pentas seni di berbagai SMP, SMA juga kampus. Dari salah satu kampus yang menggunakan jasaku, pernah ada yang tidak membayarku karena aku aku berkomunikasi dengan orang yang salah yaitu orang yang aneh dari salah satu panitia yang tidak bertanggung jawab.
Saat menjadi MC, aku akan tenang pada acara-acara khusus tapi aku akan bergerak kesana kemari tak mau diam, bebas lepas tanpa batas jelas jika sedang mengisi acara hiburan. Aku merasa ‘kawin’ dengan panggung. Aku ‘kerasukan’ di atas panggung, ini membuatku menyukai panggung, membuatku rileks dan kembali tidak tahu diri karena sesekali aku sering bernyanyi. Tidak ada teriakan huuuuu atau bunga konyol saat aku bernyanyi, justru itu menjadi hal yang lucu dan mengundang tawa penonton. Jika ada kesempatan maka aku akan bernyanyi membawakan lagu favorit andalanku yaitu Mabok Janda dan Mandi Madu. (Parah!)
Setelah pernah akrab dengan perangkat alat siaran atau mixer sederhana di tempat pelatihan siaran yang masih menggunakan winamp untuk memutar musik, maka tahun 2005 menjadi awal perkenalanku dengan mixer besar dan rumit bersama perangkat siaran lain yang lebih canggih bukan winamp di salah satu radio besar, saat itu radio itu adalah radio peringkat nomor 6 di kota Bandung berdasarkan hasil survey AC Nielsen. Setelah melewati tahap training yang panjang, hari itu tanggal 3 September 2005, dengan terbata-bata aku berbicara sendiri di depan mic pada pukul 02:00 dini hari, itu adalah hari pertama kali aku siaran. Anak baru sengaja di tempatkan di tengah malam untuk menghindari beberapa resiko akibat gugup. Ya, aku gugup luar biasa saat itu, jantungku berdegup kencang melebihi kencangnya detak jantung saat mau menyatakan cinta. Tanganku gemetar sehingga sering salah menekan tombol mixer. Kondisi siaran pertamaku payah, tapi menjadi semakin baik setiap harinya hingga aku dipanggil oleh radio peringkat nomor 2 di Bandung lalu akupun pindah pada tahun 2008.
Sejak 2005, hari demi hari dalam hidupku di isi dengan ‘berkicau’! Bukan kicauan semerdu suara burung atau kicauan lewat kata-kata di twitter. Ini kicauan audio di radio atau kicauan heboh di atas panggung. Entah orang lain menilai seperti apa suaraku, tapi beberapa pendengar menyebutku ‘bencong’ karena suaraku seperti suara laki-laki. Sebagian pendengar lainnya yang kebanyakan laki-laki, menyebut suaraku sebagai suara yang menggoda hingga membuat mereka berfantasi, entah mana yang benar tapi aku paham karena aku juga pernah jadi pendengar.
Selama di dunia radio, aku mulai belajar banyak hal. Aku belajar memainkan suaraku, belajar memainkan intonasi, belajar mempercantik artikulasi, belajar memoles ekspresi dan gerak tubuh, belajar menjadi pengisi suara/voice over, belajar out of the box/berpikir lain dari orang kebanyakan, belajar tentang adlibs/iklan yang dibacakan saat siaran, belajar theatre of mind/berimajenasi, belajar punchline/akhir kalimat yang bermakna khusus, belajar bridging/menyambungkan satu topik ke topik lain yang berbeda, belajar berkreatif, belajar mengarang lagu untuk jingle, belajar ilmu komunikasi secara tidak langsung, belajar chart/tangga lagu, belajar jurnalistik, belajar jadi reporter, belajar menyampaikan berita dari bahasa Koran ke bahasa ngobrol biasa, belajar dialog interaktif, belajar berbicara di atas nada (outro, intro, dan baksound) juga belajar tentang banyak hal lainnya yang masih tetap bermanfaat hingga kini.
2011 aku memutuskan untuk meninggalkan dunia radio atau tepatnya di paksa keluar oleh situasi. Aku menekan hatiku untuk tidak merindukan mixer dan mic hanya karena satu kenangan buruk. Tapi aku masih akrab dengan panggung dan mic karena aku masih tetap menerima tawaran MC hingga akhirnya aku jatuh sakit November 2012 lalu. 6 tahun berteman dengan mixer dan mic, juga 7 tahun mengakrabi mic dan panggung, jujur aku katakan bahwa kini aku merindukan mic, mixer dan panggung.
Sebelum sakit aku sempat menerima tawaran untuk menjadi MC pada pernikahan seorang teman di bulan Januari lalu, tapi stroke lebih dulu datang di bulan November 2012. Aku bersikeras untuk tetap melaksanakannya tapi aku harus sadar diri akan kondiisiku. Itu tidak mungkin untuk saat itu, tapi kini kondisiku sudah lebih baik dan aku benar-benar rindu berada di atas panggung sambil memegang mic. Aku rindu menjadi seorang pemandu acara aku rindu panggung dan mic. Aku rindu memandu acara di gedung, di pasar, di lapangan luas, panggung besar atapun panggung kecil.
Selama ini, aku akui bahwa aku menekan rasa rindu pada mic dan mixer hanya karena sebuah kenangan buruk, tapi kini aku tak bisa lagi mengelak bahwa sebenarnya aku juga benar-benar merindukan mic dan mixer. Aku rindu bicara sendiri bersama dunia imajinerku, aku rindu merangkai kata memainkan suara, aku rindu iklan, smash dan jingle. Aku rindu memutarkan lagu pilihan setiap orang, rindu membacakan sms pendengar, juga rindu menggoda penelpon yang ikut on air. Aku rindu pendengarku berkata “Suaramu menggoda tapi wajahmu menipu!”
Kini, setiap kali mengantar Ononk kekasihku siaran, aku selalu di dera rasa rindu. Aku sangat ingin siaran setiap kali Ononk siaran. Aku ingin siaran di salah satu radio yang bahkan tak masuk urutan 10 besar radio Bandung. Entah karena apa tapi aku maunya siaran di radio itu, aku sudah memimpikannya sejak tahun 2005.
Aku rindu mengintervieu selebritis dengan segala macam tingkah lakunya padahal dulu di radio pertama dan yang kedua, aku selalu benci setiap kali program director atau music director memberi tahuku bahwa akan ada interviu di program siaranku. Ini karena aku tidak suka para selebritis, hehe. Hanya sedikit dari selebritis yang memberi kenangan manis saat kuinterviu.
Diantaranya Rama dan personil Nidji lainnya adalah yang paling memberi kesan terdalam karena mereka sungguh sangat-sangat gokil sayang Giring tak hadir saat itu. Afgan sangat asyik, dia benar-benar sederhana dan membumi. Band Netral membuatku kacau karena aku gugup melihat Eno sang drummer pujaanku. Burgerkill adalah yang paling nendang. Iis Dahlia ramah sekali. Ine Chintia itu ternyata gokil. Ridho Rhoma dan Cathy Sharon itu lucu. Kahitna yang paling mantap. Java jive tidak ada duanya.
Sebagian yang lain membuatku malas karena beberapa adalah artis atau penyanyi yang kurang terkenal tapi gaya sudah selangit. Sebagian lagi malah membuatku kesal karena mereka memang artis atau penyanyi terkenal yang agak angkuh dan bersikap agak menyebalkan. Selebihnya, ya biasa-biasa saja. Semenyebalkan apapun sebagian mereka, ternyata kini aku malah merindukan mereka semua. Semoga nanti, entah dengan cara seperti apa, aku akan kembali menikmati hal-hal itu.
 
 
 
Bakat bukan hanya dalam satu bidang, saat kau tidak berbakat di bidang yang satu, mungkin kau justru berbakat di bidang yang lain.
Sesuatu yang sangat kau inginkan, justru bisa menjadi sesuatu yang menyakitkanmu tapi percayalah, apa yang menurutmu buruk saat ini, bisa menjadi lucu dikemudian hari
Ketika kau terlalu serius pada sesuatu, bisa jadi itu malah akan memberatkanmu. Namun kadang ketika kau menjadikannya biasa saja, itu malah akan meringankanmu dalam melakukannya.
Semua penyiar bisa menjadi MC tapi tidak semua MC bisa siaran

penyiar radio-radio bandung @coaching clinic Eko Junor

 MC untuk pameran bordir&handy craft Dinas Koperasi Jabar 2010

 kangen mixer
 
siaran di puncak Masjid Agung Bandung dalam program bukan siaran biasa



Selasa, 18 Juni 2013

Aajari aku untuk membuang jauh kebencian

para guru cilik

Saat aku menoleh kebelakang, rasanya baru saja terjadi kemarin aku menendang perut dan kemaluan anak laki-laki berandal di sekolahku yang bernama Belu yang sebenarnya juga adalah tetanggaku. Aku menendang perut dan kemaluannya dengan kekuatan penuh bukan tanpa alasan. Aku menendangnya karena dia selalu saja menggangguku.
Tindakan Belu bisa jadi memang hanyalah sebuah tindakan iseng yang biasa anak-anak lakukan. Namun tindakannya tidak lagi menjadi biasa ketika suatu hari aku melintas di ujung gang rumahku. Dari kejauhan aku sudah melihat Belu sehingga aku pun bersiap-siap untuk menghadapi serangan jahilnya. Aku berusaha tenang saat melewatinya, kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga. Sambil berlari dia dengan sengaja meremas payudaraku yang baru saja tumbuh.
“ANJING!” ucapku saat itu, aku bingung harus berbuat apa. Aku bahkan seperti tak bertenaga untuk menendangnya, aku hanya mengumpat dan meneteskan air mata yang buru-buru kuusap karena tak mau di lihat lemah. Sejak itu, aku harus terus memutar otak untuk menemukan cara bertahan setiap kali bertemu dengannya. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya lagi, aku berjanji pada diriku sendiri.
Usai Belu melakukan tindakan isengnya yang tak lucu, aku kembali mengalami hal yang sama oleh orang yang berbeda. Hari itu, seperti biasa aku berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumah karena jaraknya memang tidaklah terlalu jauh. Dari jalan raya, aku menyusuri gang menuju rumahku. Dulu aku sangat suka berjalan dari satu gang ke gang lain apa lagi jika menemukan gang sebagai jalan baru untuk menembus satu tempat. Hari itu pun aku menyusuri gang seperti biasanya. Tiba di gang berikutnya, yang jaraknya kira-kira 100 meter di belakang rumahku, aku melewati masjid yang biasa kulalui.
Di samping masjid ada sumur juga kamar mandi yang biasa digunakan bersama oleh orang-orang yang tinggal di dekat masjid itu sekaligus berfungsi sebagai tempat wudhu bagi yang ingin shalat. Aku sudah biasa melewati sumur itu karena memang letaknya adalah di jalan yang biasa di lalui oleh pejalan kaki termasuk aku. Biasanya ada orang yang sedang mencuci atau memandikan anaknya di sumur itu saat aku melintas, maka seperti yang di ajarkan oleh Ibu guru dan Mamah tentang sopan santun, aku akan sedikit menundukan kepala sambil tersenyum mengucap “Punteun!” setiap kali melewati orang yang sedang beraktivitas di sumur itu apa lagi jika orang itu adalah orang yang lebih tua dariku.
Hari itu, dari kejauhan aku melihat ada Mang Agus yang tengah mencuci di sumur itu maka aku pun mengucap “Punteun!”. Mang Agus membalas dengan mengucap “Mangga!” tapi tiba-tiba dia mendekatiku lalu meremas payudarku, “ANJING!” ucapku saat itu dengan refleks, aku menangis lalu berlari sekencang-kencangnya menuju rumah.
Di rumah aku sudah menghapus bersih air mataku dan tidak mau ada orang rumah yang tahu. Entah kenapa dulu aku begitu bodoh karena tidak menceritakannya pada ayah ibuku untuk meminta perlindungan. Aku diam selama ini, mulutku tidak pernah menceritakannya namun sejak itu, aku selalu melihat bengis setiap kali melihat Belu atau Mang Agus. Aku benci mereka berdua! Aku ingin mencabik-cabik wajah mereka atau melempari mereka dengan batu setiap kali melihat mereka karena aku selalu saja melihat mereka, mereka tetanggaku.
Bagiku hidup jadi penuh ancaman kala itu, aku tidak pernah ber ramah-ramah pada mereka berdua. Jika aku sedang di tugasi menjaga warung, lalu salah satu dari mereka berbelanja, maka aku akan meladeni mereka dengan ketus sambil berharap di dalam hati agar mereka segera lenyap dari muka bumi atau di timpa kesialan bertubi-tubi seumur hidupnya. Aku membenci mereka!
Hidup terus berlangsung, masalah hidup tidak hanya mereka berdua, yang menggangguku juga tidak hanya mereka berdua. Aku dibully sejak dulu, tidak mudah untuk hidup dilingkungan yang penuh anak-anak rasis. Mereka meledekku berramai-ramai dengan mengatai aku BATAK atau KRISTEN, mereka tidak percaya bahwa aku muslim walaupun aku ikut belajar mengaji bersama mereka. Kupikir, memangnya kenapa kalau aku batak? Terus kenapa kalau aku Kristen? Memangnya kenapa? Saudaraku juga banyak yang Kristen, Bapa Tuaku seorang pendeta, ibuku juga dulu Kristen, abang sepupuku seorang penginjil, lalu memangnya kenapa sih? Bagiku hal itu biasa saja tapi mereka malah membullyku, mereka adalah anak-anak kurang ajar yang menyebalkan dan juga bodoh, aku benci mereka!
Kebencianku tumbuh subur, mengakar tidak pernah hilang. Aku menyadari perihal kebencian ini sejak 6 bulan yang lalu yaitu bulan Desember 2012. Ketika aku akan berangkat terapi bersama Mamah dengan menggunakan becak langganan Mamah. Hari itu berbeda dari biasanya karena becak yang datang dikemudikan oleh laki-laki yang lebih muda, berbeda dari bapak tua yang biasanya mengantar kami. Sepertinya aku mengenal laki-laki muda itu, dia bilang bahwa ayahnya sedang ada tamu sehingga dia akan menggantikan tugas ayahnya untuk mengantar kami.
Jarak tempuh dari rumah menuju tempat terapi pijatku adalah sekitar 5km, sepanjang jalan aku terus menoleh ke belakang memperhatikan pemuda yang sedang menarik becak itu, pemuda yang tengah mengayuh becaknya dengan sigap padahal matahari sedang terik-teriknya kala itu. Aku tahu dia siapa, aku yakin!
Tiba di rumah usai terapi, aku bertanya pada Mamah untuk meyakinkan tentang siapa pemuda itu. Mamah bilang benar bahwa pemuda itu adalah Belu. Aku mengumpat sambil menangis. Sosok yang menyakiti dan kubenci sejak dulu, hari itu justru jadi seperti seorang malaikat penolong. Aku menceritakan pada Mamah kejadian masa lalu yang juga di dengarkan Teh Yayah tetanggaku yang sedang ada di rumah.
Mamah geleng-geleng kepala mendengar ceritaku karena dimatanya, Belu adalah anak yang baik. Dari Mamah aku tahu bahwa sekarang Belu adalah seorang tukang becak sama seperti ayah nya dan menjadi becak langganan Mamah tapi aku meminta tolong pada Mamah agar tidak lagi menggunakan becaknya jika yang mengemudikannya adalah Belu, untunglah setelah itu aku bisa di bonceng dengan motor jadi tidak perlu lagi naik beca.
Disaat bercerita tentang Belu, aku juga menceritakan tentang kisah Mang Agus, karena itu adalah sepaket kisah kenangan buruk yang sama oleh dua orang yag berbeda. Ada kebencian pada sorot mata Mamah ketika medengar cerita Mang Agus, dia marah kenapa dulu aku tidak bercerita. Teh Yayah tidak meragukan ceritaku, karena beberapa waktu yang lalu Mang Agus pernah melakukan tindakan yang hampir sama yaitu meremas pantat perempuan yang sedang berjalan, yang juga merupakan tetangga kami yang kini sudah pindah. Aku bilang pada Mamah dan Teh Yayah bahwa sejak dulu, haram bagiku jika aku harus tersenyum atau berbaik-baik pada Mang Agus dan Belu, aku benci mereka!
Waktu cepat berlalu, ternyata kejadian buruk itu berlangsung sudah hampir 17 tahun yang lalu. Selama hampir 17 tahun ini aku memelihara kebencian pada mereka berdua juga pada beberapa anak yang membullyku. Lalu aku berpikir, kenapa dulu mereka melakukan itu padaku? Sexy kah aku? Sebegitu menggodanyakah aku menurut mereka?
Heiiiiii, saat itu aku hanya seorang anak perempuan berseragam merah putih kedodoran. Rokku juga selalu di bawah lutut bahkan menurutku terlalu panjang. Payudaraku juga kecil karena baru saja mulai tumbuh, sama sekali tidak sebagus seperti gadis dalam gambar iklan bra, payudaraku saat itu bahkan belum kutopang dengan mini set. Kenapa mereka melakukan itu? Kenapa aku mendapat pelecehan seksual?
Selama ini aku tidak menyangka bahwa perbuatan Belu dan Mang Agus membuat kebencian mekar di hatiku yang membuatku jadi tidak begitu suka untuk bergaul akrab di lingkungan rumahku. Sejak SMP hingga sebelum aku sakit, aku lebih senang bergaul di lingkungan luar  rumah. Rumah hanya jadi tempat untuk tidur, hidup hanya aku dan orang rumah, aku tak mau tahu tentang tetanggaku. Jika sedang libur dan diam dirumah tidak kemana-mana, maka komunikasi dengan tetangga yang kulakukan hanya dengan tetangga di depan, disamping kiri dan kanan rumahku. Selebihnya, maaf, aku tidak terlalu suka dan itulah alasan aku tidak begitu akrab dengan mereka.
Setelah sakit, aku terkurung di rumah. Terkurung oleh keadaan juga terkurung oleh rasa ketidak sukaan pada beberapa orang di sekitar rumahku. Mamah terus berusaha meyakinkanku untuk tidak terus mengurung diri di dalam rumah. Mamah terus mengajak berdiam di luar untuk melihat luasnya keindahan di cakrawala yang bisa kunikmati, mengajakku menikmati indahhnya suasana pagi, melihat sibuknya lingkungan di siang hari, bersantai bersama tetangga di sore hari dan sedikit bercengkrama ketika hari hampir malam karena para tetangga memang terbiasa berkumpul juga melakukan beberapa aktivitas di depan rumahku.
Awalnya enggan sekali mengikuti ajakan Mamah lagi pula aku tidak terlalu mengenal mereka tapi akhirnya aku ikuti juga karena berdasarkan saran dari dr.Bily melalui Rina adikku, maka setiap pagi, aku akan berjemur menikmati matahari pagi setelah selesai mandi dengan duduk di kursi roda di halaman rumah tetangga yang ada di depan rumahku. Dr.Bily bilang, ini harus dilakukan agar punggungku tidak lecet akibat terlalu lama berbaring.
Setiap kali berjemur, beberapa orang yang melewatiku saat berjalan, melihatku dengan tatapan heran, beberapa lainnya menyapaku juga menyemangati. Mereka adalah para tetanggaku. Kegiatan ini membuatku mau tak mau jadi berinteraksi dengan lingkungan sekitarku.
Setelah bisa berjalan, aku keluar dari rumah untuk sekedar berjemur di pagi hari, latihan berjalan dan senam tangan atau sekedar duduk diam di depan warung tanpa harus di paksa oleh Mamah karena aku melakukannya atas inisiatifku sendiri. Aku mulai suka melihat aktivitas para tetangga di pagi hari, ada Mang Ence yang sibuk menyiapkan roda buburnya, Mak Elah yang sibuk membuat gorengan, Mak Itoh yang sibuk menyiapkan roda Kupat tahunya, beberapa orang yang datang dari berbagai arah untuk membeli Nasi Kuning pada Bu Nining di depan rumahku, Tukang tahu yang terus berteriak memanggil Mak Anjung konsumen setianya “tiada hari tanpa tahu” begitu aku sering berkata pada Mak Anjung, ada para pengayuh becak yang bersiap untuk mencari rezeky dan banyak kegiatan lainnya. Mereka hidup, mereka giat, mereka berjuang, melihat mereka jadi menimbulkan perasaan senang dan memberi semangat padaku.
Aku mulai akrab kembali dengan para ibu yang ku kenal juga mengenal orang-orang baru kemudian kami membicarakan tentang stroke, beberapa kali aku mengobrol singkat dengan Pak RT atau bercanda dengan para pemuda tanggung. Mereka semua adalah orang terdekat dari rumahku yang akan membantu proses penguburanku kelak karena tidak mungkin aku akan berjalan sendiri ke pemakaman, inilah proses belajar bertetangga yang telat kulakukan.
Aku juga mulai bermain bersama anak-anak dan aku lebih memilih untuk sering bermain bersama anak-anak. Mereka anak-anak yang lucu, tidak rasis seperti anak-anak seangkatanku, jikapun ada paling hanya satu dua. Dari anak-anak itu aku belajar banyak hal dan aku mulai membangun hubungan dengan mereka. Pada anak-anak itu aku juga membagikan mainan milikku, walau usiaku sudah 28 tahun, aku sangat suka mengoleksi mainan anak-anak jadi tidak sulit untuk membagi mainan pada mereka. Mereka senang dan berkata “Nuhun Teh Sutri!”
Aku ikut bermain saat mereka bermain lompat karet/sampintrong walau hanya sekedar jadi penjaga yang memegang karet karena belum mungkin jika aku ikut melompat. Aku senang meladeni pertanyaan anak-anak cerewet yang serba mau tahu/kepo termasuk meladeni pertanyaan Neng Miot yang cantik berusia 4 tahun, anak cantik itu adalah anak ke-3 dari Mang Agus. Aku suka saat aku memarahi anak nakal yang sedang mengganggu anak lainnya karena aku merasa jadi pahlawan untuk anak yang diganggu. Aku senang mendengarkan curhat Eva (4tahun) dan Arin (6 tahun) yang memiliki masalah hidup yang rumit juga tentang tidak enaknya jadi anak yang lahir dari keluarga miskin. Yang paling menyenangkan adalah bermain bersama Dikdik, anak cerdas berusia dua tahun yang belajar nama binatang dalam bahasa Iggris denganku, sekarang tingkah lakunya semakin lucu saja setiap hari.
Aku bermain dan belajar bersama mereka. Aku belajar menghilangkan kebencian saat melihat anak-anak itu bertengkar hebat dengan temannya lalu dengan mudah saling memaafkan kemudian bermain bersama kembali. Aku belajar kejujuran dari mereka ketika mereka mengakui kesalahan tanpa banyak berkata sebagai pembelaan diri. Aku belajar dari mereka bagaimana cara memandang permasalahan sebagai sesuatu yang memang menyebalkan tapi tidak untuk terus di pikirkan karena ada banyak cara untuk menyenangkan hati. Aku belajar dari mereka tentang bagaimana menghadapi kemiskinan. Aku belajar menghargai apa yang kita miliki saat melihat mereka benar-benar bangga dengan mainan mereka yang tak sebagus mainan anak orang kaya bahkan seringnya mainan mereka itu adalah mainan bekas. Aku belajar tentang mudahnya bergembira ketika melihat mereka senang saat kuberi mainan yang sebenarnya biasa saja. Aku belajar bagaimana mengubah perilaku ketika mengajari Piyan yang berperilaku kasar agar menjadi sedikit lebih santun. Aku belajar berbagi tanpa menuntut ketika melihat mereka saling memberi dan menerima. Aku belajar tentang sifat buruk yang bisa muncul sejak kanak-kanak karena didikan orang tua ketika melihat 2 orang anak ‘orang kaya’ di antara anak-anak itu yang berperilaku sombong mirip orang tuanya. Aku belajar untuk kembali menyusuri gang saat melihat mereka berlarian ke satu gang dan muncul dari arah gang lain yang berbeda, aku tidak harus membenci gang hanya karena ulah 2 orang jika aku juga sebenarnya suka menyusurinya.
Hampir 17 tahun ini aku menyimpan rasa benci yang sekarang sedang ku kikis pelan-pelan walau belum bisa memberi senyum pada Mang Agus dan Belu, mungkin nanti itu akan terjadi suatu saat nanti. Hidup itu simple walaupun tidak mudah. Hidup itu belajar dan bermain cukup dengan tenang, rileks dan fokus saat hadapi apapun. Memafkan bukan berarti melupakan dan itu memang belum mudah bagiku tapi setidaknya aku terus mencobanya.
Setiap orang punya kenangan buruk tapi tugas hidup selanjutnya adalah menciptakan kenangan manis untuk masa yang akan datang. Terima kasih Putri, Putri, Nuri, Rafa, Neng Miot, Zila, Piyan, Yola, Ihsan, Fahri, Eva, Arin, Fais, Fadli, Neng Su, Wulan si kembar Zahwa, seorang anak unik juga anak-anak lain yang namanya belum aku hapal dan tentunya untuk Dikdik. Terima kasih untuk pertemanan yang indah dan teruslah ajari aku untuk membuang jauh kebencian dari diriku wahai guru-guru cilik. I love you all! *Kiss&Hug*




punteun = permisi
mangga = silahkan
nuhun = terima kasih