Rabu, 11 Juni 2014

Jelek tak harus minder



Sutri Yaningsih Manik


aku merasa secantik Puteri raja


Dengan tinggi badan 145cm, aku termasuk pendek. Hidungku pesek, alis gak jelas, gigi agak maju, cenderung gemuk, gak cantik, gak masuk kategori cewek yang akan dengan mudah ditaksir para cowok, bibir tebal, dan terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya dan sekarang ditambah dengan bonus yaitu keterbatasan gerak tubuh.
Secara keseluruhan maka aku akan memasukkan diriku kedalam kategori cewek jelek. Buat aku gak masalah karena memang aku gak akan masuk kategori cewek cantik yang biasanya diisi wajah-wajah semisal Ariel Tatum, Pevita Pearce, Nia Ramadani dan banyak wajah lainnya yang dari zaman kezaman kriterianya selalu sama yaitu para perempuan yang memiliki paras dan tubuh yang elok mempesona.
Aku juga gak mau masuk kategori cewek biasa-biasa saja karena itu artinya adalah mereka yang tidak bisa dikatakan cantik tapi tidak bisa juga dikatakan jelek. Menurutku kategori ini agak tidak jelas dan terasa abu-abu maka dari itu aku lebih suka memasukkan diriku dalam kategori jelek agar ada kejelasan, gak simpang siur hahaha.
Kebanyakan orang berkata “Gak ada manusia yang jelek karena Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna jadi harus bersyukur.”
Hei, akupun diciptakan Tuhan dengan sempurna. Telingaku 2, mataku 2, mulutku 1, tanganku 2, yah lengkap deh semuanya. Dan menjadi orang jelek itu bukan perkara tidak bersyukur. Ini adalah klasifikasi yang dibuat manusia berdasarkan apa yang dilihat oleh mata. Begitupun aku saat melihat diriku sendiri di cermin, maka dengan santai aku berkata “Ya aku memang jelek.”
Dulu sekali, saat masih kecil, aku berperilaku tomboi tapi dalam diri merasa bahwa aku secantik putri raja dengan wajah rupawan yang selalu bergaun bagus nan mewah kemudian suatu saat akan jatuh cinta pada pangeran tampan.
Memasuki usia remaja aku semakin tomboi dan tidak perduli akan penampilan seperti anak perempuan kebanyakan. Penampilanku lebih mirip anak laki-laki, menyeramkan karena mirip sekali dengan tukang pukul, dan jarang ada yang menyangka bahwa aku perempuan.
Ketika agak dewasa, aku mulai berdandan selayaknya anak perempuan karena Pak Dedun atasanku dulu sering berkata “Perempuan yang menyerupai laki-laki akan dimasukkan ke neraka.” Sejak itu aku mulai memanjangkan rambut, memakai pakaian perempuan bahkan menggunakan high heel.
Awal mula berubah, aku terlihat seperti bencong hingga ditertawakan oleh orang-orang disekitarku. Maklumlah pertama kali. Lama-lama aku semakin bisa mengurus diri, semakin peduli pada penampilan, makin pintar memadu madankan pakaian yang akan kukenakan, semakin cakap dalam urusan make up. Aku pun makin terbiasa dengan bedak, lipstick, lipgloss, blush on, eye shadow, maskara, pinsil alis, eye liner dan yang lainnya.
Walau ada kekurangan disana sini, saat itu aku cukup puas dengan bodyku yang montok, dada yang berisi juga rambut lurus nan lebat yang kurasa jadi penutup kekuranganku sehingga kelebihan ini aku tambahi dengan pakaian yang menurutku OK plus dengan dandanan minimalis yang membuat penampilanku makin ciamik. Yah kalo dikasih nilai, aku kasih 7 lah (Diri sendiri lho ya yang ngasih nilai.) dan aku jadi merasa agak lebih cantik dari sebelumnya.
Katanya orang-orang, cantik itu harus langsing dan putih. Agar terlihat lebih cantik maka aku mulai diet dengan obat-obatan, membiasakan diri menyisihkan uang gaji untuk melakukan perawatan semisal facial, bleaching tubuh, manicure dan yang lainnya. aku juga tergiur oleh bujukan kawan untuk menggunakan cream wajah yang entah merknya apa namun saat itu sedang marak digunakan. Aku membelinya dengan harga Rp.100.000,-. 2 minggu awal pemakaian cream, aku mengalami proses pengelupasan kulit, muncul jerawat berukuran besar yang disertai wajah bengkak dan merah seperti kepiting rebus hingga aku jadi mirip monster. Setelah masa-masa proses suram itu berakhir, creamnya berhasil memutihkan wajahku hingga menjadi putih mulus, bersih dan licin.
Biaya kecantikan itu mahal ya! Sementara aku harus pintar membagi gaji untuk biaya kuliah dan lain-lain. Belakangan juga aku tahu, bahwa cream itu dilarang peredarannya karena mengandung merkuri yang akan berdampak buruk dikemudian hari. Akhirnya aku stop deh. Berhenti pake cream, wajahku jadi berjerawat. Untungnya sih gak lama dan bisa hilang dengan obat legal yang tidak terlampau mahal.
Perawatan ini itu juga aku stop berkaitan dengan biaya juga karena aku mulai malas untuk berdandan (ribet). Aku berpenampilan seadanya dan merasa tak ingin terlihat cantik karena aku justru jadi sering digodain sopir atau kernet angkot, bapak-bapak aneh, tukang becak dan preman jelek. Pokoknya gak nyaman dan berasa murah.
Agustus 2009 aku memutuskan untuk berkerudung. Karena badanku gemuk lagi, aku tampak semakin tua. Saat itu usiaku baru 24 tahun tapi aku terlihat 10 tahun lebih tua. Semenjak berkerudung, kemanapun aku selalu dipanggil “Ibu!” bukan 'teteh' atau 'mbak'. Sumpah beteeeeeeee!!!!! Bayangin aja, setiap aku ke mini market, kasir akan berkata “Ada membernya Bu?” kalau lagi lihat-lihat baju cewek di dept store, SPGnya kadang nyamperin sambil bilang “Ada yang bisa dibantu Bu?” (Makanya aku lebih suka ke dept store yang SPGnya sering tersenyum ramah sambil bilang “Silahkan Kakak, ada yang bisa dibantu?”) bahkan orang yang gak kenal misalnya mau tanya alamat akan berkata “Maaf bu, kalo alamat ini dimana ya?” Semua orang memanggilku ibuuuuuuuuu.
Sempet sih kepikiran untuk buka kerudung, tapi aku tetap bertahan karena ini adalah ujian berkerudung sehingga aku mulai terbiasa dipanggil “Ibu.” Walau kadang masih tetep bete. Tapi memang wajah dan penampilanku mirip dengan ibu-ibu beranak lima berusia sekitar 40 tahun sih jadi ya gak bisa juga nyalahin orang lain.
Dampak stroke pada tubuh bagian kiriku, wajah yang terlihat berusia 44 tahun, penampilan yang belum aku benahi juga kebiasaanku yang jarang tersenyum membuatku terlihat semakin jelek. Maka dari itu sekarang aku mulai belajar membenahi penampilan sedikit demi sedikit. Bukan untuk terlihat cantik tapi untuk menyamankan diri sendiri.
Sebenarnya sejak dulu aku bukan tipe orang yang minder. Aku memiliki rasa percaya diri yang lumayan cukup tinggi. Tapi aku mulai merasa tidak nyaman dengan wajah galakku. Jika aku tak nyaman, apalagi orang lain!
Selama ini, aku sering sekali tertawa terbahak-bahak tapi jarang sekali tersenyum. Wajah galak ini sepertinya akibat dari jarangnya aku tersenyum. Maka aku mulai belajar untuk lebih sering tersenyum walaupun senyumku agak aneh gara-gara wajah yang tak lagi simetris karena stroke tapi aku tetap belajar lebih sering tersenyum karena hal itu berpengaruh sekali lho pada penampilan terutama kenyamanan pada diri sendiri.
Setelah belajar tersenyum, apakah aku jadi cantik? Nggak juga, aku tetep jelek, gendut, berwajah agak galak, dan tetap lebih tua daripada umur sebenarnya. Tapi aku semakin mengenal diriku, aku semakin merasa pantas mendapat hormat dari diriku sendiri, semakin nyaman dan semakin bertambah percaya diri.
Aku memang jelek tapi menjadi jelek bukanlah aib. Aku memang tidak cantik tapi kawanku bilang, cantik secara fisik bukanlah segalanya. Dia juga memberiku satu hadis yang menggembirakan hati, yaitu “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan-perbuatan kalian.” (Shahih, HR. Muslim dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Apakah hatiku cantik? Nggak juga, malah dalam proses mengenal diri sendiri, aku semakin sadar akan sifat-sifat burukku yang menjelekkan hatiku hingga membuat hatiku berpenyakit. Wow, sudah jelek rupa-nya, jelek pula hatinya, hehehe. Maka selain belajar sering tersenyum, sekarang aku juga mulai belajar mengobati penyakit-penyakit hatiku.
Beberapa orang berkata “Kamu tuh nggak jelek Tri.” Oh ayolah, jelek pun saya tak keberatan karena jelek pun tak membuat aku minder toh jelek dan cantik hanya berdasarkan pandangan mata saja. Lagipula, baik cewek cantik atau yang jelek tetap sama-sama akan menjadi nenek-nenek dan keriput. Perkara menjadi nenek-nenek yang berpenampilan seperti apa, tetap hanyalah perkara bungkus (pakaian) dan polesan
Aku tak perlu masuk kategori cewek yang akan mudah ditaksir para cowok karena aku memang bukan untuk ditaksir tapi untuk dicintai oleh seorang lelaki special seperti sosok ayahku dalam versi yang lebih sempurna.
Sekarang, siapapun boleh memanggilku dengan sebutan “Ibu.” Karena aku mulai merasa terhormat dengan sebutan itu.


Apapun dan bagaimanapun aku, aku bahagia dan bangga dengan diri dan hidupku. Aku bersyukur dengan semua yang aku miliki dan alami.
Alhamdulillahi rabbil alamin. “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”

Terima kasih Ya Allah karena aku adalah Sutri Yaningsih Manik



keep smile :D
punya kekasih ganteng itu bikin timpang ya, hahaha

Selasa, 10 Juni 2014

10 Juni yang ke-6



mengalir, tidak sedang berenang.


Jujur, sebenarnya aku lupa dengan tanggal 10 Juni hingga semalam 40 menit sebelum pergantian hari pukul.00:00 Ononk menelpon dan mengucapkan “Happy 6th anniversary sayang. Terimakasih sudah sabar mendampingiku 6 tahun ini, terimakasih untuk bla bla bla bla bla.”
Kaget sih karena itu pertama kalinya deh dia duluan yang inget tanggal jadian kami. Aku nggak tahan dan ngakak setelah dia selesai mengucapkan pidato ucapan terima kasihnya. Aku ngakak karena tumben banget dia inget tapi ngucapin nya tanggal 9 Juni 2014 pukul:23:20wib pula. Dia bilang kali ini dia gak mau keduluan jadi ngucapin duluan deh. HEBAT.
Setelah itu baru deh aku ngeh, mungkin aku lupa karena belakangan kita terlalu sering berantem kali ya. Dari semenjak awal tahun ada aja masalah. Hal kecil aja bisa jadi gede apalagi hal gede. Itu kali yang jadi salah satu faktor yang bikin aku lupa sementara dia inget karena beberapa hari ini dia emang lagi sweet banget.
Sempet sih kepikiran jangan-jangan masalah yang ada ini adalah ujian 6 tahun kebersamaan kami. Gila lu 6 tahun man! Itu klo punya anak, gw rasa anaknya udah TK keleussss. Kebayang gak loe gimana rasanya pacaran 6 tahun? Serunya ada, betenya ada, bahagianya ada dan bosennya juga ada. Fiuhh campur-campur deh pokoknya.
Perkara menikah tetep jadi pertanyaan favorit yang dilontarin orang-orang ke kami. “Pacaran mulu, nikah gih.” Atau “Enam tahun, nunggu apa lagi sih? Kapan nikah?” ada juga yang bilang “Udah cepetan nikah, rezeki mah ngikut ntar.” Dan banyak lagi.
Yah kalo perkara nikah mah biar Allah yang ngatur dan cukup kami yang tahu tapi yang pasti melewti 6 tahun bersama bukan hal yang mudah. Bagaimana ujungnya hubungan ini ya liat ntar aja kan masih ditengah perjalanan belum nyampe ke ujung. Make it simple hehehe.
 


Kita yang tahu apa yang kita rasa.
Masih tetap bersama adalah keputusan kita.
Untuk membuktikan bahwa keputusan ini adalah sebuah kesalahan, itu tergantung pada diri kita masing-masing. 
Yang penting kita tetap ada di jalur yg kita yakini benar meski mungkin kita salah tapi kita tak ragu melangkah dan harus siap dengan segala realitas. 
Kelak semua ini mungkin akan berakhir, namun rasa ini akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kamu aku tak terbatas pada raga. 
Dan kita masih tetap belajar, bersama untuk mencapai kedamaian dan ketenangan hati.

Terima kasih karena masih bertahan denganku yg menyebalkan ini.
100608-100614
Selamat tanggal 10 Juni yang ke-6 Ononkku.

Sabtu, 31 Mei 2014

Mencintai cinta

bukan dimana tapi bersama siapa. krn itu angkot jd terasa mobil mewah #gombal


Mencintaiku bukanlah hal yg mudah
Hanya dia lelaki yang hebat yang dimampukan untuk mencintaiku.
Bagiku mencintai bukanlah hal yg mudah
Hanya dia yang mempesona yang akan kucintai.
Cinta bukan perkara mudah
Hanya mereka yang dihebatkan Tuhan yang mengalami ketulusan dan kemurniannya.
Cinta bukan segalanya dalam hidup
Namun cinta mampu menghebatkan hidup.
Mungkin saja orang tertipu, terlena dan hanyut dalam percintaan
Tapi setidaknya mereka mau berada dalam perjuangan cinta menuju kebersamaan dunia.
Yang telah bersatu dalam pernikahan bisa saja menikah bukan karena dasar cinta atau belum mampu memaknai perjuangan bersama menuju hidup yang lebih baik di akhirat
Namun setidaknya pernikahan sudah mnyempurnakan setengah din kalian.
 

Jelas sudah Tuhan berkata "Lelaki baik untuk perempuan baik, dan perempuan baik untuk lelaki baik pula."
 

Masih sendiri atau telah bersama
Baiknya tetaplah memperbaiki diri
Karena ada putus dlm pacaran dan ada cerai dlm pernikahan
Kecuali mereka yang mampu melewati tiap rintangan karena kecintaannya pada Tuhan selalu menguatkannya dalam mencintai 1 manusia special penenang hati untuk bisa bersama se lama mungkin dalam mencintai cinta.


terimaksih untuk napas cinta ini Ya Allah

Rabu, 21 Mei 2014

Bersama untuk Berpisah




biar jadi kenangan

Ketika aku berada di titik nol, aku merasa bahwa duniaku hancur, aku rapuh dan hari-hariku tak lepas dari air mata. Saat itu, ada laki-laki dengan segudang energi positifnya tak pernah pergi menjauhiku. Raganya sering kali hadir sekedar menghiburku dengan cerita-cerita yang tak lucu tapi selalu mampu membuatku tertawa. Saat dia tak disampingku, dia selalu menelponku sekedar untuk berkata “Hai cewek lagi apa? Ngapain aja hari ini Ratuku? Hari ini cengeng gak kesayanganku ini?”
Entah kenapa mendengar suaranya saja sudah bisa membuatku merasa bahagia. Bahkan dia sering memberi kejutan dengan tiba-tiba muncul di rumahku ditengah kesibukannya bekerja hanya untuk sekedar memastikan bahwa aku mau makan dan meminum obat. Sesekali dia mengajakku jalan-jalan agar tak jenuh terus menerus terkurung dirumah. Aku merasa bahwa Tuhan mengirimnya untuk menjadi energiku hingga duniaku mulai terasa cerah kembali. Setahun berlalu, tahun 2013 menjadi tahun yang sangat indah.
Senyum ceriaku memudar sejak awal tahun 2014 berganti muram karena laki-laki itu kehilangan energi positifnya yang pernah dia tularkan padaku. Wajahnya yang tampan sering tak bersinar karena ‘kusut’, dia dipenuhi dendam dan amarah karena banyaknya kekecewaan hidup yang dia alami. Dia marah dan kecewa pada beberapa orang yang dengan tega menyepaknya. Banyak hal sial terjadi secara bersamaan, dan banyak impian yang tak terwujud. Dia jauh dari sang penciptanya hingga membuat keadaan terasa bertambah suram. Dia tak bahagia, dia jenuh dan dia bosan. DIA MENDERITA dan entah kenapa aku merasa dua kali lipatnya dari apa yang dia rasa dan itu perih sekali ketika melihat orang yang kau cintai ada dalam penderitaan.
Aku bersyukur dia masih bisa bersikap baik-baik saja dihadapan setiap orang yang mengenalnya. Tapi aku tahu kesedihannya. Dia rapuh, tanpa perlu dia bercerita aku tahu bahwa dalam kesendiriannya dia sering menangis sendiri karena harga dirinya sebagai laki-laki mungkin mengharamkannya menangis di depan orang lain.
Dia jadi sering bergadang, sudah berbulan-bulan dia pulang dari kantor setelah larut malam kemudian baru bisa tidur setelah subuh lalu bangun di siang hari. Seringkali dia mengalami sakit perut karena pola makan yang tak beres. Hidupnya tak bergairah, sahabat baiknya hanya rokok dan kopi hitam. Alhamdulillah bukan alkohol dan drugs.
Saat bergadang, dia sibuk berselancar di dunia maya dan mulai iseng mendekati beberapa perempuan melalui beberapa aplikasi chating dan berbagai sosial media yang kemudian berlanjut menjadi kawan di bbm. Yah biasa laki-laki, sifat dasarnya memang mendua jadi ya modus deh.
Sebagai perempuan biasa yang berstatus pacarnya, jelas aku marah tapi amarahku tak penting karena aku tahu senyum dan ketenangannya berpikirlah yang jauh lebih penting agar mampu melewati setiap masalah dengan sabar dan tabah.
Akupun sadar diri bahwa hubungan kami yang sudah berlangsung lama juga adalah salah satu hal yang membuatnya bosan dan jenuh, apalagi aku tak bisa membahagiakannya seperti saat dia membahagiakanku. Semua kondisi hidup yang dia alami berpengaruh pada sikapnya padaku hingga hubungan kami kini sedang ada di ujung tanduk.
Jika bagi laki-laki kaum perempuan adalah kaum yang sulit dimengerti, sebaliknya bagikupun sulit sekali untuk memahami laki-laki ini apalagi jika sudah diselimuti rasa bosan yang membabi buta seperti yang dia rasa padaku. Perhatian dan kasih yang kuberikan tak penting baginya. Jika aku bersikap seperti dia memperlakukanku juga sepertinya dia tak peduli. Sedikit saja aku mengajukan pertanyaan maka jawabannya bisa melebar karena semua yang kulakukan jadi selalu salah. Dia sering berkata kasar juga bersikap acuh dan sinis. Bahkan dia sudah tak pernah memanggilku ayang sejak akhir Februari lalu dan baru sepulang dari Bali 11 Mei 2014 kemarin dia kembali memanggilku ayang lagi.
Dalam kebingungan harus berbuat apa untuknya juga keterbatasanku untuk bisa kesana kemari maka aku mulai memilih diam. Aku biarkan dia dengan urusannya dengan perempuan manapun karena aku percaya bahwa hati akan selalu tahu mana yang pantas untuk menjadi belahannya. Dan aku percaya hatinya Insya Allah akan selalu menemukan hatiku.
Aku mulai belajar untuk tak sakit hati atas sikap dan ucapannya hingga airmataku mulai sulit menetes saat dia mulai bersikap atau berkata hal yang menyakitkan. Aku berlatih menjadi seorang mantan yang bukan siapa-siapa walau masih jadi pacarnya karena dia pernah berkata bahwa saat ini kami bersama hanya untuk menunggu waktu berpisah yang tepat jadi kini aku berlatih menjadi serpihan kenangan saja.
Ini mungkin yang namanya pacaran rasa jomblo. Tak ada lagi perhatian ataupun kata-kata manis, tak ada tetek bengek saling berkabar, dan sudah berbulan-bulan tak ada yang namanya kebersamaan di malam minggu. Aku pun mulai membatasi diri untuk gak kepo pada urusannya, mundur perlahan dari hidupnya agar dia bebas menjalani hidupnya karena hal yang dia perlu sepertinya adalah 'kebebasan' dan aku hanya akan ada saat dia perlu saja.
Secara logika, beberapa perempuan mungkin akan memilih untuk mengakhiri sesuatu yang tak jelas arah tujuannya, begitupun aku. Namun aku masih bertahan bersamanya, mengenyampingkan ego dan belajar mengalah karena aku tahu dia masih membutuhkanku untuk beberapa hal dan kebaikannya padaku di masa yang lalu adalah point utama kenapa aku masih bertahan. Bukan logika atau perasaan yang kugunakan untuk tetap bertahan tapi kata hati.
Bersamanya aku tak seutuhnya bahagia, namun tak bersamanya dan melihat dia menderita membuatku jauh lebih tak bahagia. Aku tahu dia pun tak bahagia bersamaku. Sepertinya kami mulai lupa apa itu bahagia. Hanya untaian doa yang menjadi harapan semoga dia mendapatkan kembali energi positifnya, juga karena peluk kasih-Nyalah yang masih menguatkanku untuk tetap mendampinginya.



Jika esok kita memang tak lagi bersama, maka tetaplah disampingku hingga hari ini berakhir.
Jika memang esok aku akan menangis karenamu, maka buatlah aku tertawa hari ini.
Jika esok kekasihmu yang baru  memintamu menjauhiku, maka biarkan aku bersamamu hari ini.
Jika esok kita tak kan lagi saling peduli, maka biarkan hari ini kita meluapkan semua keluh kesah.
Jika esok kita akan saling membenci, maka biarkan hari ini aku memelukmu dengan erat.
Jika esok kau tak kan lagi berbicara padaku, maka bercelotehlah kau hari ini hingga kupingku keriting mendengarmu.
Jika memang esok kita tak ingin lagi saling mengenal, maka duduklah hari ini disampingku untuk berbincang saat awal pertama kita bertemu 6 tahun lalu juga tentang semua hal yang telah kita lewati bersama.
Jika esok kita akan pergi saling menjauh, maka temani aku disini hari ini untuk bersenang-senang.
Genggam tanganku  hingga matahari terbenam.
Disini, ditempat awal kita bertemu.
Disini, ditempat kedua kita bersama dalam suasana yang berbeda.
Lalu kesana, ditempat terakhir kita bersama, beranjak dari kejenuhan hingga nanti kita berjumpa lagi dilangit ketujuh.

Kupanggil dia “MAS”



14 April 2014
Hari itu kami bertengkar karena aku bertanya Cilpi yang ada di phone book nya itu siapa, karena aku lihat perempuan itu muncul di facebook, twitter, bbm, dan sekarang ada di kontak phone book pula. Dia marah dan bilang bahwa Cilpi itu bukan orang yang sama dengan yg di socmed. Dia murka, bicaranya melantur.

Tapi untuk pertama kalinya dia berkata jujur tentang perasaannya setelah dia marah-marah. Dia bersikap tidak biasanya seolah-olah dia tak boleh dibantah dan dia bersikap keras untuk pertama kalinya. Aku tak takut tapi justru merasa suka karena akhirnya dia bersikap seperti itu.

Selama ini aku lebih mendominasi, banyak hal yang hampir semua adalah pilihan dan keputusanku. Berhubung usiaku juga lebih tua 3 tahun, aku merasa aku lebih dewasa, lebih pintar dan lebih hebat darinya sehingga aku merasa bahwa dia lebih pantas ‘menghormatiku' apalagi dimataku dia lebih lemah daripada aku.
Selama ini aku memanggilnya Ononk. Tak ada embel-embel ‘Aa’, ‘Abang’ atau apapun. Hanya Ononk plesetan dari Jenong karena jidatnya yang memang jenong. Aku merasa tak perlu ada embel-embel apapun karena aku jauh lebih tua bahkan seringkali aku bercanda memintanya untuk memanggilku Kakak seperti adik-adikku memanggilku. Hehehe.
Aku tahu sebenarnya usia bukanlah faktor penentu siapa lebih dewasa dari siapa, tapi selama ini aku terlalu gengsi jika harus memanggilnya dengan embel-embel  segala macam. Tapi sejak malam itu, aku tahu dia pantas menerima hormatku.
Aku mulai menghargai dan menghormatinya. Aku turunkan gengsi dan mulai bersedia memanggilnya ‘Mas’ karena dia berasal dari kota Malang dan sejak lama aku sudah tahu bahwa dia ingin dipanggil demikian tapi aku emoh selama ini.

27 April 20014
Malam itu aku menelponnya, tidak seperti biasanya aku deg-degan. Dengan ragu aku memanggilnya “Mmmmasss” lalu kami berbincang tentang bukti nomor Cilpinya (ciehh panggilan kesayangan nih!). Beberapa kali aku memanggilnya Mas, tidak seperti biasanya aku juga agak lebih tenang tidak meletup-letup.

Rasanya campur aduk, seolah aku sedang berbicara dengan senior Paskibra yang jadi kecenganku “Fiuhhhhh” Lega rasanya saat telpon kututup.
Esok harinya aku kembali menelpon dan kembali aku memanggilnya “Mas”. Menyebutnya Mas rasanya berbeda dengan saat aku memanggil Mas pada tukang bakso atau penjaga kasir di mini market atau saat aku memanggil mas pada laki-laki manapun. Ketika aku memanggilnya mas seolah ada kekuatan magis yang membuat nada suaraku tiba-tiba jadi lebih melembut, ada rasa hormat dan penghargaan padanya dan ya rasanya 'wowwww' aja gitu.